Share

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Dibanderol USD118/Barel

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 15 Juni 2022 08:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 15 320 2611718 harga-minyak-dunia-turun-wti-dibanderol-usd118-barel-cxZjaJL9A4.jpg Harga minyak dunia turun (Foto: Ilustrasi Reuters)

JAKARTA - Harga minyak dunia turun pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Harga minyak turun di tengah kekhawatiran Federal Reserve AS akan mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan.

Melansir Antara, Rabu (15/6/2022), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus turun USD1,10 atau 0,9% menjadi USD121,17 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD2 atau 0,7% menjadi USD118,93 per barel.

Sebagian besar pengamat Fed memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuannya Rabu. Tetapi setelah data indeks harga konsumen (IHK) yang kuat pada Jumat (10/6) untuk Mei, lebih banyak yang memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin.

"Ketakutan akan kenaikan basis poin yang lebih besar ini menurunkan ekuitas dan minyak," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Harga minyak tertekan oleh laporan bahwa ketua Komite Keuangan Senat AS Ron Wyden berencana untuk memperkenalkan undang-undang yang menetapkan pajak tambahan 21% atas keuntungan perusahaan minyak yang dianggap berlebihan, seorang pejabat mengatakan kepada Reuters.

RUU itu akan menerapkan pajak tambahan 21% atas keuntungan berlebih dari perusahaan minyak dan gas dengan pendapatan tahunan lebih dari 1 miliar dolar AS, kata sumber itu.

Ketatnya pasokan diperparah oleh penurunan ekspor dari Libya di tengah krisis politik yang menghantam produksi dan pelabuhan.

Produsen OPEC+ lainnya sedang berjuang untuk memenuhi kuota produksi dan Rusia menghadapi larangan minyaknya karena perang di Ukraina.

Departemen Energi AS juga mengumumkan pemberitahuan penjualan keempat 45 juta barel minyak mentah dari cadangan minyak strategisnya (Strategic Petroleum Reserve).

Di sisi permintaan, wabah COVID terbaru China yang ditelusuri ke sebuah bar di Beijing telah menimbulkan kekhawatiran akan fase penguncian baru.

Dalam laporan bulanannya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mempertahankan perkiraannya bahwa permintaan minyak dunia akan melebihi tingkat pra-pandemi pada 2022, tetapi mengatakan invasi Rusia ke Ukraina dan perkembangan terkait pandemi virus corona menimbulkan risiko yang cukup besar.

Kelompok itu memperkirakan pertumbuhan permintaan melambat tahun depan, delegasi OPEC dan sumber industri mengatakan kepada Reuters, karena melonjaknya harga minyak membantu menaikkan inflasi dan bertindak sebagai hambatan pada ekonomi global.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini