Share

Khawatir Resesi, Harga Minyak Brent Pertama Kalinya Anjlok 5,6% dalam 5 Minggu Terakhir

Antara, Jurnalis · Sabtu 18 Juni 2022 07:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 18 320 2613697 khawatir-resesi-harga-minyak-brent-pertama-kalinya-anjlok-dalam-5-minggu-terakhir-v6FTyJ8ss8.jpg Harga Minyak Mentah Turun. (Foto: Okezone.com/SKK Migas)

JAKARTA - Harga minyak anjlok hingga 4% ke level terendah empat minggu pada akhir perdagangan Jumat. Di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga bank-bank sentral dapat memperlambat ekonomi global dan memangkas permintaan energi.

Dolar AS minggu ini naik ke level tertinggi sejak Desember 2002 terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus terpangkas USD6,69 atau 5,6% menjadi USD113,12 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli berkurang USD8,03 atau 6,8% menjadi USD109,56 dolar AS per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik Tipis Dibanderol USD122/Barel

Itu adalah penutupan terendah untuk Brent sejak 20 Mei dan terendah untuk WTI sejak 12 Mei. Serta persentase penurunan harian terbesar untuk Brent sejak awal Mei dan terbesar untuk WTI sejak akhir Maret.

Untuk minggu ini, Brent turun pertama kalinya dalam lima minggu, sementara WTI turun untuk pertama kalinya dalam delapan minggu.

Tidak akan ada perdagangan AS pada Senin (20/6/2022), karena merupakan hari libur Juneteenth.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 1% Tertekan Lockdowon China

"Harga minyak mentah jatuh karena dolar menguat, Rusia mengisyaratkan ekspor minyak akan naik, dan karena meningkatnya kekhawatiran resesi global," kata Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya, dikutip dari Antara, Sabtu (18/6/2022).

Para gubernur bank sentral global yang dengan cepat melonggarkan kebijakan moneter selama pandemi untuk menghindari resesi, kini mengetatkannya untuk memerangi inflasi.

Federal Reserve minggu ini menaikkan suku bunga AS paling besar dalam lebih dari seperempat abad.

"Dengan bank-bank sentral membuat langkah yang cukup substansial untuk membatasi pertumbuhan melalui kenaikan suku bunga dan pengetatan moneter dikhawatirkan akan mendorong ekonomi ke dalam resesi," kata Mitra Again Capital LLC di New York, John Kilduff.

Dia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat akan memangkas permintaan energi.

Dengan The Fed diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga, minyak berjangka WTI di New York Mercantile Exchange turun pada Kamis (16/6/2022) ke level terendah sejak Mei 2016 karena investor mengurangi aset-aset berisiko.

Bensin dan solar AS juga turun lebih dari 4,0% di tengah kekhawatiran harga di SPBU yang tinggi akan mengurangi permintaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini