Lalu, beban lain-lain naik 38,04% menjadi Rp127, 21 miliar. Dampaknya, laba sebelum pajak penghasilan amblas 74,3% yang tersisa Rp42,608 miliar. Sementara itu, utang bank jangka pendek bertambah 50,9% dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp830,41 miliar. Dampaknya, kewajiban membengkak 14,96 persen menjadi Rp3,725 triliun. Sehingga aset tumbuh 8,8% menjadi Rp6,156 triliun.
Untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 7,1 triliun. Target pendapatan ini tumbuh 14% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 6,23 triliun. Selain itu, perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi.
CEO Widodo Makmur Perkasa, Tumiyana mengatakan perseroan sebetulnya sudah memiliki perencanaan jangka panjang untuk memastikan kesiapan produksi hingga tahun 2025, namun baru tahun 2022 WMPP sudah mengalami shortage food. Oleh karena itu, disampaikannya, apa yang akan dilakukan perseroan adalah membangun fasilitas untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Dia juga memastikan belanja modal atau capex telah disiapkan sekitar Rp1,2 triliun untuk tahun ini.
Hingga tahun 2025, dengan asumsi rata-rata capex dialokasikan Rp1,2 triliun per tahun maka diproyeksikan produksi dapat terus meningkat.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.