Share

Subsidi BBM Bikin Ketergantungan, Harga Pertalite Cs Sulit Dinaikkan

Feby Novalius, Okezone · Selasa 30 Agustus 2022 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 30 320 2657612 subsidi-bbm-bikin-ketergantungan-harga-pertalite-cs-sulit-dinaikkan-ALZmOyZAgR.jfif Ketergantungan Subsidi BBM. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA - Mengurangi subsidi BBM secara bertahap merupakan jalan terbaik. Pasalnya, besarnya anggaran subsidi BBM bisa digunakan untuk sektor yang lebih produktif.

Oleh karena itu, penetapan harga BBM seharusnya berdasarkan formula yang mengacu kepada harga minyak bumi di pasar global, seperti dulu diterapkan pada awal-awal Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Demi kebaikan perekonomian nasional dan kesejahteraan bangsa, secara bertahap subsidi BBM harus dihilangkan,” tulis Pakar Ekonomi Faisal Basri, dalam kajian berjudul Kebijakan Subsidi BBM: Menegakkan Disiplin Anggaran, Selasa (30/8/2022).

Baca Juga: Orang Kaya 'Penghisap' Subsidi BBM Pertalite, Sri Mulyani: Kesenjangan di Masyarakat Makin Tinggi

Polemik subsidi BBM mencuat menyusul potensi membengkaknya biaya subsidi BBM di tengah naiknya inflasi dunia karena disrupsi rantai pasok akibat pandemi dan perang. Hal ini memunculkan dilema.

“Subsidi BBM dapat diibaratkan seperti candu yang membuat konsumen terlena dan menimbulkan ketergantungan. Untuk melepaskan diri dari ketergantungan tersebut memang sulit, namun tentu bukan mustahil,” kata Faisal.

Presiden Joko Widodo sebenarnya sudah membuat kebijakan yang baik di awal pemerintahannya, dan ini perlu dilaksanakan konsisten. Saat itu, Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres Nomor 191 tahun 2014 yang semangatnya untuk melakukan pengurangan subsidi BBM.

Baca Juga: Pengusaha Sebut BLT Rp600 Ribu Bisa Jaga Daya Beli di Tengah Kenaikan Harga BBM

Berdasarkan aturan tersebut harga BBM, kecuali minyak tanah yang nominal harganya ditentukan dan minyak solar yang mendapat subsidi maksimum seribu rupiah per liter, ditetapkan berdasarkan formula yang mengacu kepada harga minyak bumi di pasar global, dalam hal ini harga transaksi di bursa minyak Singapura (MOPS).

“Berdasarkan aturan tersebut harga jual eceran BBM diubah setiap bulan sesuai dengan perubahan harga minyak di bursa Singapura. Selain itu, pemerintah tidak perlu mengeluarkan subsidi untuk bensin premium. Subsidi hanya diberikan untuk minyak tanah dan minyak solar,” papar Faisal Basri.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Dalam catatannya, pencabutan subsidi ini berdampak besar pada pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM. Pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM turun tajam dari Rp191,0 triliun pada 2014 menjadi Rp34,9 triliun pada 2015.

Dalam perjalanannya formula ini tak sepenuhnya berjalan, yaitu sejak adanya Perpres Nomor 43/2018 yang memberi kewenangan kepada Menteri ESDM untuk menetapkan harga BBM umum berbeda dengan harga yang dihitung berdasarkan formula. Sejak ini, pemerintah harus membayar kompensasi kepada Pertamina selaku badan usaha yang ditugaskan untuk memproduksi bensin premium, atas kekurangan penerimaan yang disebabkan oleh penetapan harga tersebut.

“Kompensasi atas kekurangan penerimaan BUMN penerima penugasan pada dasarnya bentuk subsidi terselubung,” papar Faisal Basri.

Untuk itu, Faisal Basri mendorong agar Indonesia kembali ke upaya konsisten menghapus kebijakan subsidi secara bertahap, alokasi anggaran subsidi BBM, mendorong produksi minyak bumi, dan peningkatan ketahanan energi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini