Keempat, meredanya pandemi Covid-19 membuat kegiatan perkantoran ataupun institusi pendidikan kembali stabil dan ini sangat menguntungkan perseroan karena kegiatan seperti outing, family gathering, dan field trip kembali berjalan.
“Hal ini membuat perseroan berhasil meningkatkan tingkat utilisasi dari bus kategori besar di mana sebelumnya masyarakat yang hanya menggunakan bus medium untuk perjalanan dengan grup kecil,” papar Andrianto.
Menurutnya, kenaikan harga BBM yang terjadi di bulan terakhir di kuartal III-2022 juga tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perseroan. Di lini usaha intercity shuttle, perseroan memutuskan menaikkan harga jual rata-rata sebesar 8-10% untuk bisa meredam kenaikan harga BBM. Untuk lini usaha bus carter, margin memang sedikit tertekan karena imbas kenaikan BBM.
Hal ini disebabkan sifat pemesanan bus yang biasa di lakukan rata-rata 2-3 minggu sebelum perjalanan sehingga perseroan tidak bisa menaikkan harga setelah terjadinya forward booking. Akan tetapi perseroan cukup optimis di kuartal IV-2022 margin dari bus carter akan membaik karena forward booking yang terjadi akan mengikuti kenaikan harga yang sudah disesuaikan dengan kenaikan BBM.
Di kuartal IV-2022, WEHA memproyeksikan pendapatan sebesar Rp51 miliar dengan target laba bersih sebesar Rp6 miliar . Sehingga di akhir tahun 2022 perseroan memproyeksikan pendapatan sebesar hampir Rp175 miliar dan diharapkan laba bersih di akhir tahun 2022 dapat mencapai Rp18 miliar.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.