Share

Harga Minyak Dunia Melambung di Tengah Isu Kenaikan Produksi OPEC

Dinar Fitra Maghiszha, MNC Portal · Selasa 22 November 2022 09:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 22 320 2712265 harga-minyak-dunia-melambung-di-tengah-isu-kenaikan-produksi-opec-u6WlRki6MR.JPG Minyak dunia. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Harga minyak dunia menguat pagi ini Selasa (22/11/2022), merespons bantahan Arab Saudi terkait kabar yang menyebut mereka sedang mendiskusikan rencana peningkatan pasokan dengan organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya.

Data perdagangan Intercontinental Exchange (ICE) hingga pukul 09:25 WIB mencatat harga minyak Brent kontrak Januari tumbuh 0,43% di USD87,83 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) menguat 0,35% di USD80,32 per barel.

Performa harga kedua kontrak ini sempat anjlok lebih dari USD5 per barel di sesi sebelumnya setelah sebuah laporan dari Wall Street Journal menyebut Arab Saudi mengusulkan peningkatkan pasokan hingga 500.000 barel per hari di pertemuan OPEC pada 4 Desember mendatang.

 BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Bangkit Lagi, Naik 1%

Namun Saudi resmi memberikan bantahan. Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menegaskan bahwa mereka masih bertahan dengan kebijakan pemangkasan produksi dan tidak ada bahasan seputar peningkatan produksi minyak dengan produsen minyak OPEC lainnya, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara SPA.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sebelumnya, OPEC telah memangkas target produksi mereka pada bulan ini dengan mengatakan bahwa kelompok itu akan tetap berhati-hati pada produksi minyak yang dipicu ketidakpastian ekonomi global, dillansir Reuters.

Dari daratan China, peningkatan kasus Covid-19 masih menjadi perhatian para pelaku pasar.

Negara beribukota Beijing telah membuat sejumlah kebijakan pembatasan baru demi mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien, setelah sebelumnya diumumkan terdapat satu pasien yang meninggal akibat virus mematikan tersebut.

Pembatasan mobilitas di China dapat meningkatkan persediaan minyak, sekaligus memukul permintaan bahan bakar, mengingat Negeri Tirai Bambu merupakan salah satu konsumen minyak terbesar dunia.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini