Share

Desa Maroko Viral karena Piala Dunia 2022, Begini Sejarah dan Kondisinya

Fani Ferdiansyah, Koran Sindo · Kamis 08 Desember 2022 15:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 08 470 2723182 desa-maroko-viral-karena-piala-dunia-2022-begini-sejarah-dan-kondisinya-bRcd78DvvH.jpg Desa Maroko di Indonesia (Foto: Okezone/Pemerintah Desa Maroko)

GARUT - Tim Nasional Maroko di Piala Dunia 2022 Qatar mendapat dukungan dari Indonesia. Di Kabupaten Garut, dukungan berdatangan dari sejumlah tokoh hingga masyarakat.

Faktor kesamaan nama dengan salah satu desa Kabupaten Garut, yakni Desa Maroko di Kecamatan Cibalong, diduga menjadi alasan utama, setelah kesamaan Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas oleh warga Maroko dan Indonesia. Dukungan untuk Yassine Bounou Cs pun kian subur setelah Maroko melucuti mimpi Spanyol memenangi Piala Dunia 2022.

Perlu diketahui, serangan presisi Si Singa Atlas  julukan Timnas Maroko dalam drama adu penalti di Education City Stadium, Ar Rayyan, Selasa 6 September 2022 malam, sangat mengesankan. Para pemain La Furia Roja julukan Timnas Spanyol, harus pulang ke negara asalnya dengan lapang dada, setelah Unai Simon kiper Spanyol gagal menangkap tiga bola yang dilayangkan para pemain Maroko di babak 'tos-tosan'.

Kemenangan atas Spanyol 3-0 itu merupakan rekor pertama bagi negara yang berasal dari benua Afrika tersebut. Sepanjang keikutsertaannya di Piala Dunia, baru kali ini Maroko berhasil menembus perempat final.

Kepala Desa Maroko, Suryana, mengaku bangga atas kemenangan yang ditorehkan oleh salah satu negara di kawasan Afrika Utara itu. Ia mengamini jika kesamaan nama dengan desa yang dipimpinnya menjadi salah satu alasan kenapa Suryana mendukung penuh Timnas Maroko.

"Semoga Maroko bisa menang Piala Dunia 2022 di Qatar. Desa kami memiliki kesamaan nama, meski sejarah penamaan ini tentu berbeda dengan penamaan negara Maroko," tutur Suryana saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (8/12/2022).

Ia meriwayatkan, menurut sejarahnya, penamaan Desa Maroko bermula dari nama kampung asal Kepala Desa Maroko pertama di tahun 1964 silam, Haji Umar, yakni Kampung Maroko. Saat itu, Desa Maroko dimekarkan dari Kawedanaan Pameungpeuk.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

"Dulu bagian dari Kawedanaan Pameungpeuk. Karena waktu itu pak Haji Umar sebagai kepala desa pertama, maka nama asal kampungnya, yakni Kampung Maroko, dijadikan nama desa sebagai Desa Maroko," ujarnya.

Menurut data dari Kementerian Dalam Negeri, jumlah warga di Desa Maroko sendiri tercatat sebanyak 4.157 orang atau 1.209 KK. Suryana menyebut sekira 70 persen lebih warganya merupakan penduduk asli.

"Sisanya merupakan pendatang dari luar Desa Maroko, seperti desa-desa tetangga di Kecamatan Cibalong. Ada juga warga yang merupakan pindahan dari wilayah kecamatan lain di Kabupaten Garut, bahkan dari Tasikmalaya dan Bandung juga ada," katanya.

Kemenangan Maroko atas Spanyol di Piala Dunia 2022 pun dikomentari Wakil Bupati Helmi Budiman. Ia mendoakan, jika salah satu desa dari ratusan desa di Kabupaten Garut itu dapat menorehkan prestasi.

"Mudah-mudahan prestasi Desa Maroko Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, mendunia seperti prestasi negara Maroko yang lolos 8 besar Piala Dunia Qatar 2022 amin," harap Helmi Budiman di akun Instagram miliknya.

Kepala Desa Maroko, Suryana, berharap viralnya nama desa yang ia pimpin berbuah positif, khususnya untuk pembangunan infrastruktur jalan di wilayahnya. Menurut Suryana, sebagai penghubung antar wilayah, infrastruktur jalan Desa Maroko memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat.

"Jalan di Desa Maroko merupakan poros desa bagi beberapa wilayah lain. Semoga viralnya nama desa kami dapat menggugah pemerintah, untuk membantu dari segi pembangunan," kata Suryana, saat dihubungi MNC Portal.

Meski berperan sebagai penghubung antar wilayah yang memiliki peran vital, Suryana mengaku ada beberapa ruas jalan di Desa Maroko yang mesti dibangun. Terjalnya medan dan kurang baiknya kondisi infrastruktur, diakui Suryana menghambat akses transportasi masyarakat.

"Ada jalan yang harus dibangun dan diperbaiki di Desa Maroko ini. Kondisi terjalnya medan jalan sering menghambat aktivitas masyarakat," ucapnya.

Salah satunya saat mengakses layanan kesehatan di Puskesmas Maroko, warga terkendala jauhnya jarak dan kondisi jalan yang rusak. Ia menceritakan keadaan ini kerap menjadi kendala bagi para ibu hamil, baik saat akan mendapatkan obat atau vitamin, hingga proses persalinan.

"Dana desa belum bisa digunakan untuk memperbaiki dan membangun seluruh jalan yang ada, karena cakupan wilayah yang sangat luas di sini. Makanya, saya berharap terkenalnya Desa Maroko gara-gara Piala Dunia 2022 bisa membuat pemerintah membantu membangun infrastruktur jalan, karena itu yang masyarakat Desa Maroko butuhkan saat ini," ujarnya. Fani Ferdiansyah

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini