JAKARTA - Popi Dian Hartini merupakan seorang wanita muda yang sukses berkat bisnis telurnya. Kehidupannya sekarang ini diraihnya dengan susah payah dan penuh tantangan.
Baginya, hal utama yang harus dilakukan dalam membangun bisnis adalah dengan cara banyak mendekatkan diri kepada Allah dan jangan mudah menyerah.
"Paling utama dalam bisnis itu takwa dan tawakal. Harus ridho dan ikhlas dengan apa yang diberikan oleh Allah, karna dalam berbisnis kita akan diberikan ujian. Bisnis itu tentang mental, maju terus pantang menyerah," ucap Owner Eggs Hall, Popi Dian Hartini, Sabtu (14/1/2023).
Dilansir melalui akun Youtube JagaLilin, Popi menceritakan kisah hidupnya dalam membangun bisnis.
Orang tua Popi bekerja sebagai pedagang, hal itu yang membuat Popi senang jikalau berjualan. Di mana, sejak duduk di bangku sekolah kecil dirinya mulai menyewakan buku, menjual es teh, berdagang pakaian batik dan emping.
Lalu selepas kuliah, Popi bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji Rp2 juta sembari menjalankan bisnis di bidang transportasi. Selain itu, Popi juga mencicil membeli angkutan kota (angkot) pada tahun 2003.
Tidak berselang lama, ternyata angkot yang baru dibelinya tersebut malah ditabrak oleh bus dan dicuri.
Kejadian tersebut lantas tidak membuat Popi putus asa. Dirinya terus berjuang hingga memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan pindah kerja di bidang asuransi.
Pada pekerjaan barunya ini, Popi menjabat sebagai Agency Director dan bisa mendapatkan gaji hingga Rp70 juta per bulannya.
"Saya berkarier di asuransi itu kan alhamdulillah sampai dengan 4 tahun. Dari tahun 2008 sampai 2012 saya menjadi agency director, pas waktu itu pendapatan saya Rp70 juta sebulan," ungkap Popi.
Dengan jumlah penghasilan per bulannya yang terbilang cukup fantastis tersebut, Popi bisa membeli rumah mewah dan mobil mahal. Namun karena mulai banyak mengikuti kajian, dirinya pun jadi dibuat ragu dengan pekerjaannya di sektor asuransi.
"2016 itu saya mulai datang ke kajian-kajian, mendengar bahwa asuransi itu haram. Tapi memang itu masih menjadi perdebatan ya, bahkan sampai sekarang, begitu," tegasnya.
Akhirnya, setelah berdiskusi panjang dengan orang tuanya dan bertanya kepada sejumlah tokoh, dia memutuskan untuk keluar.
Semua harta yang dibelinya dengan memakai uang hasil kerjanya di bidang asuransi dijual. Kemudian sisa uang sekitar Rp400 juta dibuat untuk membuka bisnis telur ayam.
Usaha tersebut dipilih Popi karena saat itu Pandemi Covid sedang naik-naiknya.
"Pandemi menginspirasi bisnis telur karena gencar-gencarnya bansos, paling gampang telur," ujarnya.
Dalam menyediakan pesanan dia dibantu oleh Ayah dan Adiknya.
Namun nyatanya, bisnis telurnya tersebut juga tidak semulus itu karena ada orang yang mengutang lalu tidak bayar sehingga dirinya harus sementara menutup toko dan merumahkan karyawannya.
"Tapi juga gak mudah, ada tantangan dan ujian. Misal ada orang yang utang, utang, dan utang lalu gak bayar," terangnya.
Sekali tidak menyerah, perlahan Popi kembali menata bisnisnya sampai akhirnya berkembang. Bahkan, dalam sehari dia bisa mendapatkan pesanan sampai 3-10 ton.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.