Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ditawari Jadi Figuran, Sekelompok Pria Ini Malah Ditipu Tarik ATM Rp209 Miliar

Safina Asha Jamna , Jurnalis-Selasa, 04 April 2023 |13:54 WIB
Ditawari Jadi Figuran, Sekelompok Pria Ini Malah Ditipu Tarik ATM Rp209 Miliar
Ilustrasi perampokan. (Foto: Freepik)
A
A
A

Namun sebelum mereka memahami skala kasus ini, penyidik kejahatan siber Maharashtra terheran-heran melihat rekaman CCTV. Dalam tayangan kamera pemantau terdapat puluhan laki-laki berjalan ke sejumlah ATM, memasukkan kartu ATM, dan menyimpan uang kertas ke dalam tas.

 BACA JUGA:

"Kami tidak mengetahui jaringan kurir pencurian uang seperti ini," kata Inspektur Jenderal Brijesh Singh, yang memimpin penyidikan.

Dia menyebut satu kelompok memiliki pengawas yang memantau transaksi ATM secara langsung di laptop.

Rekaman CCTV menunjukkan bahwa setiap kali kurir mencoba menyimpan sebagian uang tunai untuk dirinya sendiri, si pengawas akan mengetahuinya dan menamparnya dengan keras.

Dengan menggunakan rekaman CCTV serta data ponsel dari area-area di sekitar ATM, penyidik berhasil menangkap 18 tersangka dalam beberapa minggu setelah perampokan. Sebagian besar dari mereka sekarang mendekam di penjara, menunggu persidangan.

Dia mengatakan orang-orang ini bukanlah penjahat kelas kakap. Di antara mereka yang ditangkap adalah seorang pelayan, sopir, pembuat sepatu, bahkan memiliki gelar apoteker.

"Mereka adalah orang-orang yang baik," katanya.

Dia pun menyebut orang-orang yang direkrut sebagai "pemeran figuran" ini tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan ketika perampokan terjadi.

Tetapi apakah mereka tahu untuk siapa mereka bekerja?

Penyidik pun meyakini bahwa Korea Utara yang tertutup dan terisolasi berada di balik perampokan tersebut.

Korea Utara adalah salah satu negara termiskin di dunia, namun sebagian besar dari sumber dayanya yang terbatas dimanfaatkan untuk membangun senjata nuklir dan rudal balistik, yang dilarang oleh Dewan Keamanan PBB.

Sehingga PBB memberi sanksi berat kepada negara itu, sehingga perdagangannya pun menjadi sangat dibatasi.

 BACA JUGA:

Sejak berkuasa 11 tahun lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah mengawasi kampanye pengujian senjata yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk empat uji coba nuklir serta sejumlah upaya provokatif dengan menguji peluncuran rudal antarbenua.

Kini pihak berwenang AS meyakini pemerintah Korea Utara menggunakan sekelompok peretas elite untuk membobol bank dan lembaga keuangan di seluruh dunia untuk mencuri uang yang mereka butuhkan demi mempertahankan ekonomi serta membiayai proyek senjata mereka.

Para peretas itu, yang dijuluki Grup Lazarus, diyakini berasal dari unit yang dipimpin oleh badan intelijen militer Korea Utara yang kuat, yakni Biro Umum Pengintaian.

Pakar keamanan dunia maya menjuluki para peretas tersebut dengan nama tokoh Lazarus di Alkitab yang bangkit dari kematian. Pasalnya, begitu virus mereka masuk ke dalam jaringan komputer, mereka hampir mustahil untuk dimatikan.

Grup ini pertama kali dikenal secara internasional ketika Presiden AS saat itu, Barack Obama, menuduh Korea Utara meretas jejaring komputer Sony Pictures Entertainment pada 2014.

FBI menuduh peretas melakukan serangan siber yang merusak sebagai pembalasan untuk "The Interview", sebuah film komedi yang menceritakan pembunuhan Kim Jong Un.

Akhirnya sejak saat itu Grup Lazarus dituduh berupaya mencuri USD1 miliar atau setara Rp14,96 triliun dari Bank Sentral Bangladesh pada 2016.

Mereka juga dituduh meluncurkan serangan siber WannaCry yang berusaha mendapatkan tebusan dari para korbannya di seluruh dunia, termasuk NHS, layanan kesehatan nasional Inggris.

Korea Utara membantah keberadaan Grup Lazarus, serta semua tuduhan bahwa peretasan disponsori oleh negara mereka.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement