Tetapi lembaga penegak hukum terkemuka mengatakan bahwa peretasan Korea Utara lebih maju, lebih berani, dan lebih ambisius dari sebelumnya.
Untuk perampokan Cosmos, para peretas menggunakan teknik yang dikenal sebagai "jackpotting", karena teknik ini membuat ATM mengeluarkan uang seperti ketika mesin slot mendapatkan jackpot.
Di mana bermula dari sistem bank dikompromikan dengan cara yang klasik: melalui email phising yang dibuka oleh seorang karyawan yang kemudian menginfeksi jaringan komputer dengan malware.
Begitu masuk, para peretas memanipulasi perangkat lunak ATM yang mengirim pesan ke bank untuk menyetujui penarikan tunai.
Dalam persiapan perampokan, mereka bekerja dengan kaki tangan mereka untuk membuat kartu ATM "kloning", menggunakan data rekening bank asli namun menggunakan kartu duplikat yang bisa digunakan di ATM.
Perusahaan keamanan yang berbasis di Inggris, BAE Systems, segera mencurigai bahwa perampokan itu didalangi oleh Grup Lazarus.
BAE Systems telah memantau grup tersebut selama berbulan-bulan dan mengetahui bahwa mereka berencana menyerang bank India. Hanya saja, mereka tidak tahu bank yang mana.
Penyelidik keamanan teknologi AS percaya bahwa Grup Lazarus bertemu dengan salah satu fasilitator utama di situs gelap, di mana forum-forum yang didedikasikan untuk bertukar keterampilan meretas sekaligus tempat bagi para peretas menjual layanan-layanan pendukungnya.
Pada Februari 2018, seorang pengguna yang menyebut dirinya 'Bos Besar' mengunggah tips soal cara melakukan penipuan kartu kredit.
Dia juga mengklaim memiliki peralatan untuk membuat kartu ATM klonik, dan bahwa dia memiliki akses ke sekelompok kurir pencurian uang di AS dan Kanada.
Pada 2019, 'Bos Besar' ditangkap di Amerika Serikat. Identitasnya pun dibuka, yakni Ghaleb Alaumary, seorang warga Kanada berusia 36 tahun.
Dia mengaku bersalah atas sejumlah pelanggaran, termasuk pencucian uang dari dugaan pencurian bank Korea Utara. Dia dijatuhi hukuman penjara selama 11 tahun delapan bulan.
Korea Utara tidak pernah mengakui keterlibatan apapun dalam kasus Bank Cosmos, maupun skema peretasan lainnya.
BBC telah mencoba mengonfirmasi tuduhan keterlibatan mereka dalam serangan Cosmos kepada Kedutaan Korea Utara di London, namun tidak mendapat respons.
Namun ketika kami menghubunginya sebelumnya, Duta Besar Choe Il menjawab tuduhan peretasan dan pencucian uang yang disponsori Korea Utara adalah "lelucon", dan merupakan upaya AS untuk "menodai citra negara kami".
Pada Februari 2021, FBI, Dinas Rahasia AS, dan Departemen Kehakiman mendakwa tiga tersangka peretas Grup Lazarus, yakni Jon Chang Hyok, Kim Il, dan Park Jin Hyok, yang menurut mereka bekerja untuk badan intelijen militer Korea Utara. Mereka sekarang diperkirakan telah kembali ke Pyongyang.