JAKARTA - PT Pos Indonesia (Persero) mengakui tantangan untuk medistribusikan bantuan pangan berupa telur dan daging ayam kepada 1,4 juta Keluarga Risiko Stunting (KRS) lebih berat dibandingkan penyaluran bantuan pangan 10 kilogram beras lantaran membutuhkan penanganan khusus.
“Kalau stunting tantangannya lebih tinggi lagi karena orangnya enggak banyak jadi sebaran distirbusinya banyak. Kedua, bahan baku yang didistribusikan ini bahan segaran ya, jadi harus ada cold chain yang kita siapkan,” ucap Direktur Bisnis Kurir dan Logistik PT Pos Indonesia Siti Choiriana dikutip Antara di Jakarta, Jumat (19/5/2023).
Siti Choiriana yang akrab disapa Ana ini mengakui PT Pos Indonesia yang secara resmi menjadi mitra Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam menyalurkan bantuan pangan untuk keluarga rawan stunting harus membawa semacam lemari pendingin ketika mendistribusikan telur dan daging ayam. Sehingga membuat waktu penyaluran menjadi sedikit lebih lama.
Selain itu, Pos Indonesia juga harus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada penerima untuk segera mengolah daging ayam agar bisa dikonsumsi dalam waktu yang lebih lama.
“Harapannya kan itu dipakai untuk ibu hamil supaya harapannya bisa makan itu selama lima hari. Dipotong, dibumbui atau apa, nanti tinggal di goreng. Begitu juga untuk balita. Jadi itu tantangannya karena segar jadi ini benar-benar harus diperhatikan,” ucapnya.