JAKARTA - PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) membukukan rugi bersih Rp74,77 miliar pada tahun 2022. Rugi emiten logistik dan distributor bahan bakar minyak (BBM) membengkak 139,50% year-on-year (yoy) jika dibandingkan rugi tahun 2021 senilai Rp31,21 miliar.
Peningkatan rugi membuat INPS mencatatkan defisit saldo laba tahunan sebesar Rp184,09 miliar. Angka ini bertambah dari defisit rugi Rp110,25 miliar tahun 2021.
Kondisi ini terjadi meskipun pendapatan usaha INPS tumbuh 1,97% yoy menjadi Rp281,98 miliar pada 2022. Kontribusi keagenan BBM dan SPBU menyumbang porsi terbesar senilai Rp146,93 miliar, disusul transportasi-logistik Rp90,70 miliar.
Namun demikian, beban pokok INPS bertambah 5,09% yoy menjadi Rp244,79 miliar. Ini berlangsung akibat peningkatan biaya pembelian BBM, pelumas, hingga gas, demikian dikutip dari laporan keuangan, Senin (22/5/2023).
Kendati beban umum-administrasi berkurang, INPS mempunyai tanggungan kerugian atas penjualan aset tetap senilai Rp42,36 miliar, karena menjual di bawah harga perolehan.
Beban pinjaman bank juga kian menggemuk menjadi Rp20,28 miliar, dari tahun 2021 senilai Rp17,27 miliar. Dengan demikian, rugi sebelum pajak menembus angka Rp74,48 miliar.
Dari sisi neraca, total aset INPS berkurang 25,27% yoy menjadi Rp310,40 miliar. Jumlah utang (liabilitas) melandai 9,52% yoy di angka Rp291,14 miliar, sedangkan modal (ekuitas) menyusut menjadi Rp19,34 miliar, dari Rp93,72 miliar.
Hingga 31 Desember 2022, INPS memiliki saldo kas senilai Rp2,41 miliar, alias bertambah dari posisi kas tahun sebelumnya. Salah satu kontribusinya adalah perolehan hasil penjualan aset tetap.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.