Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kolam Rob Indonesia Power Bertransformasi Jadi Pembangkit Listrik Cerdas

Taufik Budi , Jurnalis-Kamis, 14 Desember 2023 |13:10 WIB
Kolam Rob Indonesia Power Bertransformasi Jadi Pembangkit Listrik Cerdas
Ilustrasi Kolam Rob Indonesia Bertranformasi Jadi Pembangkit Listrik Cerdas. (Foto: PLN)
A
A
A

Kolam penampungan air tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari gelombang laut pasang, tetapi juga berperan sebagai pembangkit listrik terbarukan. Dengan memanfaatkan tenaga matahari, PT Indonesia Power memasang panel-panel surya di tengah kolam. Panel-panel surya ini dirancang untuk menangkap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

 BACA JUGA:

Langkah tersebut sesuai target pengembangan pembangkit EBT sebesar 7 GW pada 2030 yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Untuk mencapai target itu, PT PLN Indonesia Power perlu menginvestasikan sekira Rp250 triliun.

Dalam RUPTL tersebut, terdapat 52% dari total pembangkit EBT sebesar 20,9 GW yang akan dibangun. Mayoritas pembangkit EBT yang akan dibangun akan didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebanyak 50%, diikuti oleh energi panas bumi sekira 500 MW, dan energi surya sekira 1.500 MW.

Hemat Rp600 Juta

Erwin menjelaskan, PLTS Apung yang beroperasi sejak 9 Maret 2023 itu juga menjadi salah satu pilot project atau prototipe Hydrogen Plant. Energi listrik yang dihasilkan PLTS Apung dimanfaatkan untuk mendinginkan generator pembangkit.

“Penggunaan PLTS ini sifatnya untuk mengurangi pemakaian sendiri listrik yang dihasilkan pembangkit. Contohnya adalah penerangan, pompa-pompa kecil, juga termasuk Hydrogen Plant. Dari situ, dalam satu tahun kita bisa menghemat sekira Rp600 juta,” jelasnya .

“Generator berputar menghasilkan listrik, dengan putaran 3.000-5.000 RPM. Karena generator berputar maka akan panas, dan untuk mendinginkan pakai Hydrogen Plant,” sambung dia.

Pihaknya juga akan terus melakukan pengembangan PLTS dengan memanfaatkan area sisa di kolam penampungan rob. Pada tahap 2 nanti, akan dipasang panel surya seluas 3.697 m2 atau sama dengan luasan PLTS Apung tahap 1. Sehingga dari luas kolam 9.957 m2 akan tersisa area 2.563 m2.

“Memang keterbatasan PLTS adalah cahaya matahari karena cuma ada sekira 4-5 jam. Tapi ke depan terus ini kita kembangkan. Inovasi ke sana (EBT) sudah kita jalankan dan kita gunakan,” tandasnya.

Standar Keamanan Tinggi

PT PLN Indonesia Power Semarang PGU menerapkan standar keamanan tinggi untuk mengoperasikan Pusat Listrik Tenaga Gas & Uap (PLTGU) dan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Semarang PGU memiliki total kapasitas terpasang sebesar 1.238 MW.

Unit PLTU 1-2 beroperasi sejak 5 Oktober 1979 dan PLTU 3 beroperasi sejak 1983. Untuk unit PLTGU Blok 1 beroperasi mulai 1993 sedangkan PLTGU Blok 2 mulai beroperasi 1996. Saat ini PLN Indonesia Power sedang melakukan penambahan kapasitas pembangunan PLTGU Blok 3 yang memiliki kapasitas 779 MW dengan efisiensi mencapai 62%.

Selain itu, Semarang PGU juga mengoperasikan Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang berlokasi di kepulauan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. PLTD Legon Bajak Karimunjawa merupakan unit pindahan dari Pontianak dan mulai dioperasikan oleh Semarang PGU sejak 2018.

“Kita menerapkan standar keamanan tinggi yakni setiap personal diwajibkan menggunakan APD (alat pelindung diri) yang sesuai, seperti sepatu, helm, wear pack, juga kemudian ada ear plug untuk di tempat-tempat bising. Untuk kebisingan batasannya di sini yaitu 86 dB (decibel),” sambung Asisten Manager Operasi Sif A, Dasiman (51).

“Kemudian untuk yang bekerja di ketinggian diwajibkan menggunakan harness (alat berupa sabuk pengaman yang umumnya digunakan dalam kegiatan di ketinggian),” lanjut bapak tiga anak asal Purworejo tersebut.

Menurutnya terdapat 4 sif dengan setiap sif 20 pekerja yang mengoperasikan sekaligus memantau 6 unit turbin gas dan 2 unit turbin uap. Mereka bertugas mengendalikan peralatan dari Central Control Room (CCR) dan sebagian lainnya sebagai operator lokal untuk memantau peralatan-peralatan yang tidak termonitor CCR.

Inovasi PLTS Apung

Pakar energi baru terbarukan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr. Jaka Windarta, memberikan apresiasi terhadap langkah cerdas PT PLN Indonesia Power Semarang PGU yang melakukan transisi energi dengan mengubah kolam penampungan rob menjadi PLTS. Inovasi ini diimplementasikan untuk membantu mengurangi penggunaan listrik di Indonesia.

“Ini adalah inovasi yang bagus, artinya itu (PLTS Apung) dipakai untuk membantu penggunaan listrik bagi mesin pembangkit di Indonesia Power. Jadi pembangkit itu kan ada motor-motor, perlu suplai listrik, daripada ambil yang mau disalurkan ke PLN Distribusi, lebih baik pakai dari PLTS,” kata Jaka.

“Istilahnya adalah PS atau pemakaian sendiri. Produksi listrik dari PLTS Apung itu bukan untuk dijual, beda dengan PLTS Terapung Cirata Purwakarta yang beberapa waktu lalu diresmikan Presiden Jokowi,” imbuhnya.

Kaprodi Magister Energi Undip itu menambahkan, untuk menghasilkan energi listrik PLTS yang besar membutuhkan area luas. Untuk di daratan biasanya memanfatkan atap bangunan, sedangkan di perairan menggunakan area waduk atau danau.

“PLTS bisa memanfaatkan atap bangunan maupun kolam. Kalau yang luas lebih itu waduk. Sementara kalau laut itu karena korosif, sehingga membutuhkan peanganan khusus dan tidak mudah,” beber dia.

Sekadar diketahui, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meresmikan PLTS Terapung Cirata 192 MWp, di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Kamis, 9 Desember 2023. PLTS Terapung itu merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan ketiga di dunia.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement