Di Aceh Tamiang, percepatan pemulihan dilakukan di sejumlah titik seperti Karang Baru, Kuala Simpang, hingga Desa Lintang Kuala dengan dukungan lebih dari 10 unit alat berat yang terdiri dari excavator, motor grader, dan dump truck. Selain akses jalan, rehabilitasi instalasi pengolahan air (IPA) juga dilakukan untuk memulihkan layanan air bersih bagi warga.
Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah menyampaikan bahwa penanganan darurat difokuskan pada pembukaan kembali akses yang aman dan dapat dilalui kendaraan. Menurutnya, kondisi tanah dan aliran sungai yang masih dinamis menjadi tantangan utama dalam pekerjaan lapangan.
"Mobilisasi alat dan metode kerja diarahkan agar hasilnya cepat, tetapi tetap mempertimbangkan faktor keselamatan dan keandalan infrastruktur agar konektivitas warga bisa terjaga selama masa pemulihan," ujarnya.
Pemulihan infrastruktur pascabencana di Aceh telah berlangsung sejak akhir November 2025 dan dikerjakan secara berkelanjutan. Lebih dari 100 personel diterjunkan untuk mendukung paket pekerjaan yang mencakup sektor sumber daya air, bina marga, serta fasilitas dasar masyarakat.
Pemerintah berharap percepatan pemulihan akses jalan dan jembatan ini dapat mempercepat pemulihan sosial ekonomi masyarakat, terutama di wilayah yang selama ini bergantung pada jalur darat untuk aktivitas perdagangan, pendidikan, dan layanan kesehatan.
(Taufik Fajar)