JAKARTA – Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai menjadi momentum bagi otoritas pasar Indonesia untuk memperkuat sejumlah aspek yang masih perlu dibenahi, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham. Pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG langsung berada di zona merah dengan melemah lebih dari 6% ke level 8.393,51.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menyampaikan bahwa situasi ini dapat dilihat sebagai momentum perbaikan, bukan semata-mata sebagai ancaman.
“Pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, koreksi IHSG hari ini sebaiknya dipahami sebagai refleksi dari proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru. Selain itu, kondisi ini juga memberikan kesempatan bagi pasar modal Indonesia untuk melakukan penguatan struktural yang berpotensi memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
“Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai emerging market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menilai bahwa pelemahan IHSG hari ini kurang mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini masih solid. Oleh karena itu, penurunan indeks justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang investasi.