Gas yang diolah DSLNG seluruhnya berasal dari pasokan domestik, yakni lapangan Senoro Toili PSC dan Matindok PSC yang dikelola Pertamina dan Medco. Gas tersebut dicairkan pada suhu sekitar minus 160 derajat Celsius untuk memudahkan transportasi.
"Kita mengambil dari domestik, kita cairkan dengan suhu minus 160 derajat Celcius. Lalu kita bekukan gas jadi cair supaya lebih padat, lebih mudah ditransportasikan," jelasnya.
Sekadar informasi, DSLNG menargetkan produksi secara stabil di level 2,1 juta hingga 2,125 juta ton. Saat ini, dua pembeli utama DSLNG di dalam negeri adalah perusahaan BUMN energi yakni PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT PLN (Persero).
Adapun sepanjang 2025, DSLNG mengalokasikan lima kargo LNG untuk mendukung kebutuhan gas dalam negeri.
Dari total tersebut, dua kargo dialokasikan untuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan tiga kargo untuk PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN) dengan masing-masing kargo berkapasitas 135 ribu meter kubik LNG.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.