Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan, Koreksi Jangka Pendek Tetap Perlu Diwaspadai

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 13 April 2026 |08:09 WIB
IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan, Koreksi Jangka Pendek Tetap Perlu Diwaspadai
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah. (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)
A
A
A

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah (reversal) setelah sempat tertekan di bawah level 7.000. Meski sentimen pasar mulai mendingin berkat isu gencatan senjata di Timur Tengah, penguatan pada pekan ini masih dibayangi oleh risiko volatilitas global dan domestik.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai secara teknikal, keberhasilan IHSG menembus area resistance 7.117–7.222 menjadi modal penting untuk penguatan lebih lanjut.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas area 7.200, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka. Namun, potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai setelah penguatan yang signifikan,” ujar Nafan dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).

Senada dengan pandangan teknikal, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan indeks saat ini lebih didorong oleh sentimen sesaat akibat meredanya konflik AS–Iran. Ia menekankan bahwa faktor fundamental ekonomi belum mengalami perubahan signifikan.

“Gencatan senjata ini memberikan katalis positif dalam jangka pendek, namun sifatnya masih sementara. Pasar tetap rentan terhadap perubahan sentimen apabila tidak diikuti deeskalasi yang lebih berkelanjutan,” jelas Rully.

Rully juga menyoroti nilai tukar rupiah yang masih rentan di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.100 per dolar AS. Menurutnya, potensi keluarnya dana asing (capital outflow) masih terbuka lebar mengingat kondisi fiskal yang melebar.

“Pergerakan rupiah masih berpotensi berada pada kisaran Rp16.900 hingga Rp17.100, sementara risiko capital outflow tetap terbuka,” tambahnya.

Selain isu geopolitik, investor pada pekan ini akan mencermati risiko struktural dalam negeri, salah satunya defisit APBN yang merangkak naik ke posisi 0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Faktor eksternal yang tak kalah krusial adalah rencana peninjauan (review) indeks MSCI pada 12 Mei 2026 mendatang. Hasil peninjauan ini diprediksi akan menjadi penentu utama arah aliran dana manajer investasi asing di pasar modal Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement