Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Makin Melemah Dekati Rp17.200 per USD, Ini Biang Keroknya

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 17 April 2026 |18:00 WIB
Rupiah Makin Melemah Dekati Rp17.200 per USD, Ini Biang Keroknya
Rupiah Makin Melemah Dekati Rp17.200 per USD, Ini Biang Keroknya (Foto: Okezone)
A
A
A

Dari sentimen domestik, ekonomi Indonesia tampak mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan. Inflasi terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga juga relatif cukup solid, bahkan tertopang kuat oleh momentum Ramadan dan Lebaran. 

Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus, sementara sektor komoditas dari batu bara hingga minyak kelapa sawit juga masih memberi bantalan terhadap tekanan global.

Namun, menginjak akhir kuartal I-2026 tekanan eksternal terjadi. Eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran secepat kilat telah membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi dasar perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Harga minyak Brent sempat menembus USD118 per barel pada beberapa pekan awal perang. Kini, perang telah berlangsung selama tujuh pekan, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. 

Walaupun harga minyak mentah naik namun, pemerintah berkomitmen tidak menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi. Transmisi ini yang dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung.

Sebelumnya, pemerintah pada bertemu dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor's (S&P) di AS, menekankan komitmen Indonesia dalam menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit APBN 2026 yang sebelumnya diperkirakan akan melebar ke kisaran 2,9 persen karena kenaikan harga minyak, bahkan diperkirakan bisa turun sedikit ke kisaran 2,8 persen terhadap PDB. Meskipun angka itu masih lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen. Namun, pemerintah konsisten untuk menjaga defisit di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.180-Rp17.220 per dolar AS, sedangkan range untuk sepekan ke depan berada di level Rp17.150-Rp17.300.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement