Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Intip Strategi Mentan Hadapi Kemarau Panjang 2026

Tangguh Yudha , Jurnalis-Rabu, 22 April 2026 |12:29 WIB
 Intip Strategi Mentan Hadapi Kemarau Panjang 2026
Intip Strategi Mentan Hadapi Kemarau Panjang 2026 (Foto: Kementan)
A
A
A

JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi potensi kemarau panjang pada 2026. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pompanisasi menjadi salah satu langkah utama dalam menjaga produktivitas pertanian.

“Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah strategis, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan berbasis early warning system, optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, serta pemanfaatan pompanisasi dan perpipaan,” ujar Mentan, Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Mengacu pada proyeksi iklim, kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun demikian, kondisi tersebut telah diantisipasi sejak awal melalui penguatan sistem mitigasi berbasis wilayah dan percepatan intervensi di lapangan. Sejumlah wilayah sentra produksi, khususnya di Pulau Jawa, berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air irigasi yang berdampak pada terganggunya pola tanam, penurunan indeks pertanaman, hingga risiko gagal panen.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Pertanian telah mempercepat intervensi di wilayah rawan kekeringan salah satunya melalui optimalisasi pemanfaatan pompa air dan sumber-sumber air permukaan. Langkah ini tidak bersifat reaktif, melainkan telah dikoordinasikan sejak awal ke seluruh daerah agar dapat memitigasi kekeringan dengan memetakan wilayah terdampak dan potensi sumber air terdekat.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Andi Nur Alam Syah menegaskan, optimalisasi pompanisasi menjadi langkah krusial untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah musim kemarau. Dengan dukungan pompa air, petani tetap dapat mengakses sumber air alternatif sehingga kegiatan budidaya tidak terhenti.

"Pada periode 2023 hingga 2025, Kementerian Pertanian telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air ke sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi kekeringan di tingkat lapangan, dan pada tahun 2026 ini ditargetkan 11.000 unit pompa air bisa dialokasikan untuk seluruh Indonesia” tegasnya.

Selain penguatan infrastruktur air, Kementerian Pertanian juga memastikan ketersediaan sarana produksi utama tetap terjaga, khususnya pupuk subsidi sebagai faktor kunci dalam menjaga efisiensi biaya usaha tani di tengah tekanan iklim.

“Hingga saat ini ketersediaan pupuk subsidi masih sangat cukup. Per 20 April 2026, dari alokasi sebesar 9,55 juta ton, masih tersedia sekitar 7 juta ton yang dapat dimanfaatkan oleh petani di seluruh Indonesia. Ketersediaan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memberikan keringanan biaya produksi bagi petani,” terang Andi.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement