Ruth menegaskan bahwa diversifikasi penggunaan mata uang ini penting untuk melindungi aktivitas ekspor-impor dari risiko fluktuasi tajam Dolar AS.
Meski demikian, BI menggarisbawahi bahwa kebijakan ini bukan merupakan bentuk anti-dolar.
“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” paparnya.
Sejauh ini, China masih menjadi mitra dagang utama Indonesia yang merajai implementasi LCT dengan kontribusi dominan sebesar 89 persen dari total bauran transaksi.
Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang dengan porsi 6 persen, serta Malaysia yang menyumbang 3 persen.