Lebih lanjut, ia memaparkan bagaimana transmisi konflik global memengaruhi pelemahan rupiah melalui jalur impor energi. Sebagai negara importir bahan bakar minyak (BBM), kenaikan harga minyak dunia otomatis menguras cadangan dolar di pasar domestik.
Ia memberikan ilustrasi jika kebutuhan mencapai 50 miliar barel, maka kenaikan harga minyak dari 90 ke 100 dolar per barel akan menambah beban biaya impor sebesar 10 dolar per barel.
Kondisi ini diperparah dengan aksi investor asing yang cenderung melepas aset-aset di Indonesia, baik di pasar saham maupun obligasi. Ketika permintaan dolar melonjak tajam sementara suplai di pasar valas domestik tidak mencukupi, hukum supply and demand pun berlaku yang akhirnya mengerek nilai dolar dan menekan rupiah.
Dalam menghadapi dinamika ini, pemerintah disebut terus memantau pergerakan pasar untuk membedakan antara gangguan jangka pendek dan stabilitas jangka panjang. Fokus utama saat ini adalah memastikan bahwa kebijakan struktural tetap berjalan guna menjaga kepercayaan pasar dan daya saing nasional.
"Jangka pendek ini yang terkait dengan hot money, dengan apa namanya arus keluar masuk ekspor impor. Nah yang jangka panjang ini yang lebih sifatnya fundamental, yang sifatnya kebijakan," kata Luthfi.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.