Sebagai strategi jangka panjang dalam memitigasi risiko volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga terus memperluas diversifikasi penyelesaian transaksi perdagangan bilateral tanpa menggunakan mata uang dolar AS, melainkan lewat skema mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
"Selain itu Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab," ujar Destry.
Strategi de-dolarisasi ini menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat masif di awal tahun ini. Destry memberikan perbandingan data di mana realisasi pemanfaatan LCT per April 2026 hampir menyamai pencapaian sepanjang tahun lalu.
"Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar USD22,7 miliar vs full year thn lalu yang sekitar USD25,7 miliar," tambahnya.
Meskipun rupiah saat ini tengah mengalami tekanan hebat, Bank Indonesia mengimbau pasar untuk tetap tenang karena tingkat depresiasi yang terjadi saat ini dinilai masih bergerak selaras dengan pelemahan mata uang di kawasan regional.
Di samping itu, struktur eksternal Indonesia dinilai masih sangat kokoh yang tecermin dari posisi bantalan likuiditas valuta asing negara yang mumpuni.
"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD146,2 miliar pada akhir April 2026," tutup Destry.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.