Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, Josua menegaskan bahwa kondisi tersebut lebih dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan masalah struktural di dalam negeri. Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat terjadi secara global akibat kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju serta meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Karena itu, pelemahan rupiah saat ini tidak dapat diartikan sebagai indikasi bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami persoalan fundamental.
"Tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Yang membedakan dengan masa lalu adalah saat ini kondisi perbankan nasional jauh lebih kuat, likuiditas terjaga, dan koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas sektor keuangan berjalan dengan baik," ujarnya.
Josua juga menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis seperti yang terjadi pada 1998. Menurutnya, struktur perekonomian Indonesia saat ini memiliki ketahanan yang jauh lebih baik dibandingkan saat krisis Asia terjadi hampir tiga dekade lalu.
"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.