Di sisi lain, Israel juga terus melancarkan agresi militer skala penuh dengan menguasai 70 persen Jalur Gaza dan 35 persen wilayah Lebanon Selatan guna menumpas proksi Hamas dan Hizbullah, meski ditentang oleh Dewan Keamanan PBB dan Iran. Penolakan AS terhadap draf perjanjian damai yang memasukkan klausul posisi Lebanon dan Gaza membuat harga minyak dunia dan dolar AS kian melambung tinggi.
Selain Timur Tengah, ketegangan di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina diproyeksikan belum akan mereda hingga akhir tahun 2026, bahkan berpotensi berlanjut hingga tahun 2027-2028. Kehancuran kota Kiev akibat serangan udara Rusia membuat Presiden Volodymyr Zelensky mendesak pertemuan gencatan senjata dengan Vladimir Putin, sementara Ukraina terus membalas dengan menggempur kilang-kilang strategis Rusia.
Melengkapi sentimen negatif bagi rupiah dan emas, kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi akan tetap bersikap agresif (hawkish). Kondisi ini didukung oleh rilis data tenaga kerja AS pada hari Jumat yang menunjukkan performa di atas ekspektasi pasar.
"Kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika sendiri ya kita lihat bahwa data tenaga kerja yang dirilis di hari Jumat ini lebih baik ya lebih bagus dan ini pun juga membuat Bank Sentral Amerika ya kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi dan akan menaikkan suku bunga di kuartal ketiga, di kuartal keempat. Ya sebesar 25 basis point. Nah ini yang membuat apa? Membuat dolar kembali lagi mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap penurunan harga emas dunia," tutup Ibrahim.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.