JAKARTA - Pasar saham domestik diproyeksikan masih menghadapi jalan terjal pada pekan perdagangan 8-12 Juni 2026. Setelah turun dan mencatatkan koreksi tajam sebesar -8,69 persen pada pekan sebelumnya (2-5 Juni), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih minim sentimen pendorong dan dibayangi oleh tren penurunan (bearish) yang cukup kuat.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menjelaskan bahwa kejatuhan indeks pada pekan lalu merupakan akumulasi dari tiga faktor berat yakni rebalancing indeks FTSE yang memicu aksi jual paksa (forced selling) saham-saham big caps (DSSA, GOTO, NCKL), lonjakan inflasi Mei sebesar 3,08 persen year-on-year (yoy), serta ambruknya nilai tukar rupiah ke atas Rp18.000 per dolar AS yang memicu larinya modal asing (net foreign sell) hingga Rp7,4 triliun di pasar reguler.
"Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi oleh aliran dana domestik, menjadikan pekan ini sebagai salah satu yang paling berat bagi IHSG dalam beberapa bulan terakhir," kata Hari dalam risetnya, Senin (8/6/2026).
Memasuki periode 8-12 Juni 2026, Hari memprediksi pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada rilis sejumlah data ekonomi makro dalam negeri yang berfungsi sebagai indikator daya beli dan ketahanan eksternal.
Pada Senin (8/6) ada rilis data Cadangan Devisa Mei 2026. Jika angka ini melemah, pasar dikhawatirkan makin cemas terhadap kapasitas Bank Indonesia dalam membentengi rupiah.
Rabu (10/6) ada rilis data Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence) Mei 2026 dan Kamis (11/6) adar rilis data Penjualan Eceran (Retail Sales) April 2026.