JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini diproyeksikan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. Aktivitas pasar modal dipastikan berjalan lebih singkat, yakni hanya selama empat hari perdagangan, akibat adanya hari libur nasional memperingati Tahun Baru Islam 1448 H.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menjelaskan bahwa jika ditarik dari titik tertingginya hingga akhir pekan lalu, arah gerak IHSG sejatinya masih berada dalam tren turun (downtrend) yang tercermin dari pembentukan struktur lower low (LL) dan lower high (LH). Kendati demikian, koreksi tajam tersebut diperkirakan mulai mencapai batas jenuh.
“Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286,” kata Imam dalam analisisnya, Senin (15/6/2026).
Berdasarkan pengamatan teknikal pada dua candle perdagangan terakhir, IHSG diindikasikan mulai kehilangan momentum akibat adanya keraguan dari pelaku pasar. Pola spinning top yang disusul pembentukan pola shooting star pada penutupan akhir pekan lalu menandakan pasar gagal menembus area batas atas secara konsisten.
“Dengan kondisi tersebut, secara teknikal IPOT melihat IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat apabila berhasil breakout dari pola shooting star. Sebaliknya, IHSG berpotensi melemah apabila mengalami breakdown dari pola tersebut. Adapun level resistance berada di 6.286, sementara level support berada di 5.695,” jelas Imam.
Sebagai catatan, pada penutupan akhir pekan lalu (12 Juni 2026), IHSG ditutup di zona hijau pada level 6.007 atau melonjak 7,38 persen, setelah pada pekan sebelumnya sempat terkoreksi sebesar 8,69 persen.
Imam merinci terdapat kombinasi faktor global dan domestik yang memengaruhi pemulihan indeks pada pekan lalu, serta yang perlu diantisipasi pelaku pasar ke depan. Inflasi Mei 2026 tercatat naik ke level 4,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) akibat tingginya biaya energi dari ketegangan dengan Iran, namun direspons relatif positif oleh pasar.
Kekhawatiran pasokan minyak diredam oleh rancangan kesepakatan damai Amerika Serikat (AS)–Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang mengompensasi sentimen pemangkasan pertumbuhan ekonomi global oleh World Bank ke level 2,5 persen.
Investor juga mencermati proyeksi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,00 persen yang berisiko memicu penutupan posisi carry trade global.
Pekan ini, pasar menanti rilis data Industrial Production China untuk mengukur aktivitas manufaktur negara mitra dagang terbesar Indonesia tersebut.
Sementara itu, sentimen domestik pekan lalu adalah Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026 demi membentengi nilai tukar rupiah. Langkah ini ditopang posisi cadangan devisa Mei 2026 yang kuat sebesar USD144,9 miliar.
Klarifikasi Danantara bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan bertindak sebagai trading house atau mengambil margin berhasil meredam kecemasan emiten komoditas dan sektor ekspor.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.