Menurunnya kapasitas kas negara dalam memenuhi kewajiban pembayaran ini memicu kekhawatiran sistemik di kalangan pengamat ekonomi. Jika tren pelemahan kemampuan bayar ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi kebijakan yang radikal, konsekuensi finansial yang fatal sulit dihindari.
"Ketika kemampuan bayar kurang, potensi terjadi default menjadi lebih tinggi," jelas Nailul.
Kekhawatiran akan peningkatan risiko gagal bayar tersebut kini mulai terbaca oleh radar pasar keuangan global melalui pergerakan indeks Credit Default Swap (CDS) Indonesia. Indikator CDS yang terus memburuk menjadi sinyal bahwa investor asing mulai melihat adanya peningkatan risiko investasi pada surat utang terbitan pemerintah Indonesia.
Persepsi negatif ini berkembang seiring dengan semakin tergerusnya ruang fiskal nasional yang memaksa pemerintah beroperasi dengan ruang gerak anggaran yang sangat terbatas.
Peningkatan indeks CDS ini secara langsung akan menaikkan biaya pinjaman baru (cost of fund) yang harus ditanggung pemerintah. Dampak berantainya tidak hanya mengancam keberlanjutan APBN, tetapi juga dapat mendegradasi peringkat utang nasional di kancah global.
"Ini bisa berbahaya karena persepsi investor menentukan nasib fiskal kita ke depan. Sangat keteteran (negara bayar utang) jika tidak melakukan efisiensi anggaran," kata Huda.