JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menghijau pada perdagangan pagi ini. Indeks saham menguat 0,44 persen ke level 6.128.
Pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026), volume perdagangan tercatat 239 juta saham dengan nilai transaksi Rp182 miliar. Adapun frekuensi transaksi tercatat sebanyak 24 ribu kali.
Dari sisi market cap atau kapitalisasi pasar tercatat di angka Rp10,7 triliun. Sebanyak 226 saham mengalami kenaikan, 72 saham mengalami penurunan, dan 661 saham lainnya stagnan.
Tiga besar top gainers pada pagi hari ini dipimpin oleh Sumba Energi Andalan (ITMA) yang menguat 10 persen. Disusul Bintang Mitra Semestaraya (BMSR) naik 8,72 persen. Kemudian Hatten Bali (WINE) naik 7,50 persen.
Sementara itu, dari sisi top losers, terdapat Sarimelati Kencana (PZZA) yang terkoreksi 6,95 persen. Disusul Raksasa Hydro (ARKO) melemah 4,59 persen. Selanjutnya Dian Swastatika Sentosa (DSSA) turun 4,22 persen.
Dari sisi sektoral, sektor energi mengalami penguatan sebesar 0,30 persen. Kemudian sektor non-siklikal naik 0,13 persen dan sektor siklikal naik 0,32 persen.
Sektor keuangan menguat 0,72 persen, infrastruktur naik 0,30 persen, properti menguat 0,21 persen, bahan baku naik 0,20 persen. Sementara itu, sektor transportasi naik 0,30 persen.
Sektor industri naik 1,07 persen. Disusul sektor teknologi yang berada di zona hijau dengan penguatan 0,28 persen, serta sektor kesehatan menguat 0,20 persen.
Meski demikian, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi akan lebih banyak tertahan dalam pola sideways dengan volatilitas tinggi, menyusul keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menitikberatkan bahwa meski keputusan MSCI berpeluang memperbaiki persepsi investor dan meredakan tekanan jual, dampak positifnya bersifat terbatas karena belum mampu menjawab tantangan fundamental yang menjadi perhatian investor global.
“Status Emerging Market memang berhasil dipertahankan, tetapi arah pasar selanjutnya akan lebih ditentukan oleh kondisi fiskal nasional, stabilitas nilai tukar rupiah, prospek suku bunga global, serta kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan berbagai program strategis nasional,” urai Hendra.
Hendra menekankan selama belum terdapat katalis fundamental yang cukup kuat untuk mendorong perubahan sentimen secara signifikan, pergerakan IHSG akan tetap tertekan.
“Secara teknikal, level 5.677 menjadi area support penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga momentum pasar, sementara level 6.977 menjadi area resistance utama yang akan menjadi ujian bagi upaya penguatan indeks dalam jangka menengah,” ungkapnya.
Menurut Hendra, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sekadar mempertahankan status Emerging Market, melainkan mengembalikan kepercayaan investor asing yang hingga kini masih cenderung berhati-hati.
Kondisi tersebut tercermin dari masih besarnya aksi jual bersih (net sell) investor asing yang sejak awal tahun telah mencapai sekitar Rp83 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek pasar Indonesia belum sepenuhnya pulih.
Tekanan terhadap pasar juga terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah yang pada perdagangan pagi ini berada di kisaran Rp17.933 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut menjadi salah satu indikator bahwa investor global masih mencermati berbagai risiko yang melekat pada perekonomian domestik, terutama terkait keberlanjutan fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta arah arus modal asing ke depan.
Hal ini sejalan dengan perhatian pasar yang tertuju pada potensi pelebaran defisit APBN seiring meningkatnya kebutuhan anggaran untuk berbagai program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Investor membutuhkan kepastian mengenai sumber pendanaan, efektivitas pelaksanaan, serta dampaknya terhadap kesehatan fiskal jangka panjang. Selama kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal masih belum sepenuhnya terjawab, minat investor asing untuk kembali masuk secara agresif ke pasar domestik diperkirakan akan tetap terbatas,” jelas Hendra.
Adapun keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia di level Emerging Market tertuang dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis pada Selasa (23/6/2026) waktu setempat atau Rabu dini hari (24/6/2026).
“Kerangka Klasifikasi Pasar MSCI menentukan apakah suatu pasar termasuk pasar maju, berkembang, atau perbatasan berdasarkan tingkat aksesibilitas dan kelayakan investasi yang benar-benar dialami oleh investor institusional internasional,” kata Head of Market Classification and Taxonomies Raman Aylur Subramanian dalam MSCI 2026 Market Classification Review, Rabu (24/6).
Raman menekankan bahwa pencantuman dalam indeks dan klasifikasi pasar bukanlah penilaian yang statis, melainkan harus terus dievaluasi sesuai dengan perubahan pasar dan pengalaman para investor institusional internasional.
“Ketika akses pasar atau pengalaman tersebut memburuk, kerangka kerja kami mengharuskan kami untuk merespons dengan tegas. Dan ketika aksesibilitas dan kelayakan investasi pasar membaik,” kata Raman.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.