Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dukung Swasembada Pangan, Proyek Bendungan hingga Irigasi Dikebut di Merauke

Feby Novalius , Jurnalis-Selasa, 04 Agustus 2026 |12:53 WIB
Dukung Swasembada Pangan, Proyek Bendungan hingga Irigasi Dikebut di Merauke
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan jaringan irigasi, infrastruktur pengendalian banjir, dan jalan di Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional di Wanam. (Foto: Okezone.com/PU)
A
A
A

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan jaringan irigasi, infrastruktur pengendalian banjir, dan jalan di Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Pembangunan tersebut menjadi dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.

Menurut Menteri PU Dody Hanggodo, pembangunan infrastruktur pangan tidak boleh berhenti pada penyelesaian pekerjaan fisik. Infrastruktur harus mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi agar pendapatan dan taraf hidup petani meningkat.

“Tidak boleh ada tambahan cost lagi bagi petani. Cost para petani harus serendah-rendahnya. Keuntungan para petani harus setinggi-tingginya. Sehingga kehidupan petani makin hari makin layak, makin bagus,” kata Dody, Selasa (4/8/2026).

Hingga Juli 2026, Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air telah membangun saluran irigasi primer di Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Merauke sepanjang 44 kilometer. Pembangunan itu mencapai sekitar 32,5 persen dari target keseluruhan sepanjang 135,4 kilometer.

Pembangunan saluran irigasi sekunder mencapai 16,31 kilometer dari total rencana 61,6 kilometer atau sekitar 26,5 persen. Saluran primer dan sekunder tersebut diperlukan untuk membawa serta membagi air ke kawasan pertanian.

Sementara itu, pembangunan jaringan irigasi pada lahan percontohan pertanian seluas 1.200 hektare telah mencapai 88 persen. Dari total kebutuhan sepanjang 24,2 kilometer, sekitar 20,45 kilometer jaringan irigasi telah dikerjakan.

Selain memastikan ketersediaan air, Kementerian PU membangun infrastruktur pengendalian banjir untuk menjaga kawasan pertanian dari genangan. Hingga kini, kemajuan pembangunan Paket I mencapai 39,02 persen, sedangkan Paket II mencapai 36,65 persen.

Infrastruktur pengendalian banjir dinilai penting karena kawasan Wanam memiliki karakter lahan rawa. Pengelolaan air di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan memasok air saat musim kering, tetapi juga mengendalikan kelebihan air ketika curah hujan meningkat.

Memangkas Biaya Angkut

Di sektor konektivitas, Direktorat Jenderal Bina Marga membangun Jalan KSPP Wanam–Muting. Jalan tersebut diharapkan memperlancar pengangkutan pupuk, benih, alat pertanian, dan hasil panen sekaligus menekan biaya logistik.

Pembangunan Jalan KSPP Wanam–Muting Segmen I mencatat kemajuan 3,59 persen, melampaui target rencana sebesar 1,30 persen. Meskipun konstruksi masih berlangsung, sepanjang 58 kilometer ruas jalan telah dapat dilalui kendaraan.

Adapun pembangunan Segmen II telah mencapai 10,06 persen. Dari target jalan sepanjang 80 kilometer, sekitar 50 kilometer trase telah dibuka.

Pembangunan di Wanam merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional. Kawasan ini diproyeksikan menjadi salah satu sentra pangan baru di Indonesia timur.

Namun, luas kawasan yang tersedia belum serta-merta menunjukkan jumlah lahan yang siap ditanami. Kesiapan jaringan irigasi, drainase, jalan, benih, pupuk, alat pertanian, tenaga kerja, dan pengelolaan lahan perlu dipastikan secara bersamaan.

Kementerian PU juga perlu memastikan pembangunan dilakukan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan serta hak masyarakat adat. Pengembangan pangan berskala luas di Merauke sebelumnya menghadapi persoalan tata air, ketidaksesuaian lahan, dan konflik penguasaan tanah.

Menyambungkan Bendungan ke Sawah

Dukungan Kementerian PU terhadap ketahanan pangan tidak hanya dilakukan di Merauke. Secara nasional, Dody mendorong agar pembangunan bendungan disertai dengan penyelesaian jaringan irigasi hingga ke lahan pertanian.

Pemerintah masih menyelesaikan pembangunan 15 bendungan yang ditargetkan tuntas sebelum 2029. Apabila seluruh bendungan dan jaringan irigasinya berfungsi, luas layanan irigasi diproyeksikan meningkat dari 184.515 hektare menjadi 263.055 hektare.

Luas tanam diperkirakan bertambah dari 277.775 hektare menjadi 483.163 hektare. Produksi pertanian juga diproyeksikan naik dari 1,4 juta ton menjadi 2,34 juta ton per tahun, sedangkan indeks pertanaman meningkat dari 150 persen menjadi 262 persen.

Pemerintah juga menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 untuk mempercepat pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Kebijakan itu memberi ruang bagi pemerintah pusat untuk membantu penanganan jaringan irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.

Selama ini, pembagian kewenangan kerap menyebabkan jaringan irigasi tidak terhubung secara utuh. Saluran utama telah tersedia, tetapi air belum mencapai sawah karena saluran sekunder atau tersier mengalami kerusakan.

Selain mengerjakan proyek berskala besar, Kementerian PU menjalankan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI). Pada 2026, program perbaikan jaringan irigasi berbasis masyarakat itu ditargetkan menjangkau 12.000 lokasi di berbagai daerah.

Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi nasional pada 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga meningkat dari 30,62 juta ton menjadi 34,69 juta ton.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement