Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BRI Cetak Laba Bersih Rp31,2 Triliun pada Semester I-2026, Naik 17,5 Persen

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 31 Agustus 2026 |09:59 WIB
BRI Cetak Laba Bersih Rp31,2 Triliun pada Semester I-2026, Naik 17,5 Persen
BRI Cetak Laba Bersih Rp31,2 Triliun pada Semester I-2026, Naik 17,5 Persen (Foto: Tangkapan Layar)
A
A
A

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI mencetak laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp31,2 triliun pada semester I-2026. Laba ini tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) yang mencapai Rp26,53 triliun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi berkelanjutan melalui agenda bertajuk Repollution Reignite yang berfokus pada perbaikan fundamental, disiplin efisiensi, serta pengelolaan manajemen risiko yang prudent.

"Pada akhirnya, kombinasi pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental tersebut menghasilkan laba bersih BRI di triwulan-II 2026 sebesar Rp31,2 triliun, tumbuh sebesar 17,5 persen secara year-on-year," kata Hery dalam Press Conference Pemaparan Kinerja BRI Triwulan II Tahun 2026, Senin (31/8/2026).

Hery mejelaskan bahwa salah satu pendorong utama peningkatan profitabilitas BRI adalah efisiensi biaya pendanaan (cost of fund) serta perbaikan kualitas aset perbankan. Cost of fund secara bank only mengalami penurunan signifikan dari 3 persen pada triwulan II-2025 menjadi 2,4 persen pada triwulan II-2026 (turun 0,7 persen).

Di saat yang sama, Cost of Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen (membaik 2,7 persen yoy). Kualitas aset perseroan juga meningkat yang dicerminkan dari penurunan rasio Non-Performing Loan (NPL) dari 3 persen menjadi 2,9 persen, serta penekanan Cost of Credit (CoC) dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen. 

Dari sisi profitabilitas, Return on Equity (ROE) melonjak dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen, sementara Return on Assets (ROA) terjaga kokoh di level 2,7 persen.

"Kombinasi antara funding yang lebih efisien, margin yang tetap kuat dan kualitas aset yang membaik pada akhirnya mulai meningkatkan kualitas return BRI bisa dilihat pertumbuhan profit kita cukup bagus kualitas pertumbuhan kita juga dari sisi disiplin pertumbuhan kita tetap jaga dan kita yakin, kita optimis ke depan namun demikian prudential banking dan prinsip kehati-hatian tetap kita jaga ke depannya," jelas Hery.

 

Secara konsolidasi, ekspansi bisnis BRI ditopang oleh pertumbuhan aset serta penyaluran kredit yang melaju pesat pada separuh pertama tahun ini. Total aset perseroan berhasil menembus Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan penyaluran kredit yang melonjak 16,2 persen yoy hingga mencapai Rp1.646 triliun.

Laju ekspansi tersebut disokong oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terakumulasi sebesar Rp1.581 triliun, atau tumbuh 6,7 persen yoy. Pertumbuhan operasional ini turut mendorong kenaikan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 9,9 persen yoy dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun, serta mengerek Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen yoy hingga menyentuh angka Rp65,7 triliun.

Hery turut memberikan gambaran terkait kondisi makro perbankan nasional yang dinilainya tetap solid dan resilien hingga pertengahan tahun 2026.

Secara industri, penyaluran kredit nasional tercatat tumbuh 12,7 persen yoy dengan pertumbuhan DPK sebesar 10,2 persen yoy. Rasio Loan at Risk (LAR) perbankan nasional berhasil mengalami penurunan dari 8,9 persen pada triwulan I-2026 menjadi 8,5 persen pada triwulan II-2026.

Selain itu, likuiditas industri berada dalam kondisi yang memadai dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 88,3 persen, serta tingkat ROA industri yang terjaga kuat pada level 2,5 persen.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement