Dari sentimen dalam negeri, Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mencapai 5,2 persen.
“Proyeksi tersebut direvisi ke atas sebesar 0,5 poin persentase. Aktivitas ekonomi Indonesia juga ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi,” kata Ibrahim.
Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen bulan Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.
Meski demikian, Bank Dunia turut menyoroti bahwa aktivitas ekonomi domestik tampak melemah setelahnya, yang ditandai dengan turunnya indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada bulan Agustus dan melesunya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada bulan Juli. Di sisi lain, pelebaran defisit memicu kekhawatiran pasar atas tren fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings).
Sentimen pasar terhadap Indonesia sempat memburuk pada bulan Januari, yang kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global dan gangguan pengiriman. Arus modal keluar (portfolio outflows) tercatat mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I/2026.
Langkah pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar juga disebut mampu menekan kenaikan harga dan menahan tekanan inflasi, yang mana tingkat inflasi berhasil turun dari 4,8 persen pada bulan Februari menjadi 3,4 persen pada bulan Juli 2026.
Di samping itu, Bank Dunia memproyeksikan bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan akan melebar menjadi 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Sementara itu, tingkat inflasi diperkirakan akan tetap berada di sekitar batas atas rentang target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yaitu 2,5±1 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.750-Rp18.030 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.