“Masih ada banyak pekerjaan rumah: produksi minyak harus terus ditingkatkan, transisi energi harus dipercepat, tata kelola pertambangan harus semakin transparan, dan masyarakat harus memperoleh energi dengan harga yang terjangkau. Kritik terhadap semua hal itu tetap diperlukan,” katanya.
Ia menambahkan, evaluasi kebijakan sektor energi perlu menggunakan indikator yang terukur, termasuk perbandingan antara target dan realisasi program. Pendekatan tersebut dinilai dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai perkembangan sektor ESDM sekaligus mengidentifikasi bidang yang masih perlu diperbaiki.
“Kalau ada kekurangan, kritiklah dengan data. Tetapi kalau ada capaian, kita juga harus fair mengakuinya. Objektivitas berarti berani menyampaikan keduanya,” tuturnya.
Dia menegaskan, keberhasilan kebijakan energi pada akhirnya perlu dilihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat, mulai dari ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, peningkatan investasi, hingga penciptaan nilai tambah dan lapangan kerja.
“Yang lebih penting adalah apakah kebijakan yang dibuat menghasilkan energi yang lebih tersedia, investasi yang produktif, lapangan kerja, nilai tambah sumber daya alam, serta manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.