JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam pada perdagangan Selasa (3/11/2026). IHSG melemah 3,85 persen ke level 4.900.
Mayoritas indeks saham lainnya juga ditutup di zona merah. Indeks LQ45 turun 4,12 persen ke level 496,566. Sementara itu, IDXLQ45LCL melemah 3,81 persen ke level 69,912, IDX30 turun 3,97 persen ke level 279,682, dan IDX80 terkoreksi 4,27 persen ke level 72,611.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan pasar menjelang pengumuman hasil peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode November 2026. Pengumuman tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11 November 2026 dan hasilnya berlaku efektif mulai 1 Desember 2026.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti aksi jual bersih (net sell) investor asing yang terus berlanjut di pasar reguler. Menurut dia, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa koreksi indeks bukan sekadar dinamika teknikal sesaat, melainkan mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap tata kelola dan kepastian regulasi di pasar modal domestik.
"Tekanan terhadap IHSG menjelang pengumuman evaluasi MSCI November masih cukup besar. Pada perdagangan Jumat, investor asing kembali mencatatkan net sell Rp176 miliar, sehingga akumulasi net sell sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp126 triliun," ujar Hendra dalam analisisnya yang dikutip pada Selasa (3/11/2026).
Menurut Hendra, besarnya arus keluar dana asing menunjukkan bahwa pelemahan pasar juga mencerminkan krisis kepercayaan investor terhadap transparansi, tata kelola, dan kepastian regulasi pasar modal Indonesia. Selama persoalan struktural tersebut belum diselesaikan secara meyakinkan, investor global cenderung terus mengurangi eksposur kepemilikan pada aset berisiko di dalam negeri.
Dari sisi teknikal, indikator perdagangan menunjukkan bahwa IHSG masih berisiko melanjutkan pelemahan dan menguji level support berikutnya. Risiko tersebut meningkat apabila sentimen negatif muncul setelah pengumuman hasil peninjauan MSCI.