Advertisement
Advertisement

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.082 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Kamis, 05 November 2026 |16:02 WIB
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.082 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis 86 poin atau sekitar 0,47 persen ke level 18.082 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (5/11/2026).

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni para investor mempertimbangkan kemungkinan bahwa kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) di Amerika dapat meningkatkan tekanan terhadap Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran.

“Hal ini memunculkan ekspektasi bahwa Kongres yang dikuasai oleh Demokrat dapat membatasi pendanaan untuk operasi militer dan mendorong pemerintah untuk menempuh penyelesaian melalui negosiasi,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Trump mengakui bahwa perang dengan Iran telah berkontribusi pada kekalahan partainya dalam pemilihan umum, sementara Wakil Presiden JD Vance juga mempertanyakan biaya politik dan ekonomi dari konflik tersebut.

Adapun Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran, meskipun awal pekan ini Washington sempat melakukan serangan terbatas di Pulau Qeshm, Iran, tindakan yang mereka deskripsikan sebagai operasi defensif.

Para investor menafsirkan hasil pemilihan ini sebagai faktor yang berpotensi meningkatkan peluang de-eskalasi, yang pada akhirnya dapat melancarkan kembali aliran minyak melalui Selat Hormuz jalur pelayaran krusial bagi pasokan energi global. Namun, prospek tercapainya terobosan diplomatik masih belum pasti. 

Qatar telah meningkatkan upaya mediasi antara Washington dan Teheran, tetapi seorang pejabat senior Iran mengungkapkan kepada Reuters bahwa kedua belah pihak masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

 

Perhatian pasar selanjutnya kini tertuju pada data ketenagakerjaan AS yang diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed dengan data klaim pengangguran mingguan (Initial Jobless Claims) yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh data Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis hari Jumat besok.

Dari sentimen dalam negeri, Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 sebesar 5,47 persen (yoy) menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat dan mengalami perbaikan dibandingkan kuartal II-2026 yang tumbuh 5,29 persen. 

Kenaikan ini mengindikasikan konsumsi masyarakat, aktivitas usaha, investasi, dan belanja pemerintah masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

Jika dibandingkan dengan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen, pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan perlambatan secara keseluruhan. Artinya, pemulihan ekonomi belum sepenuhnya merata dan masih perlu didukung oleh peningkatan daya beli masyarakat serta investasi sektor swasta. 

Namun, pasar tetap akan mencermati kualitas pertumbuhan, terutama daya beli masyarakat, inflasi, nilai tukar rupiah, dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Jika pertumbuhan terus terjaga tanpa tekanan inflasi yang tinggi, hal ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Selain itu, penambahan anggaran subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp500 triliun pada 2026 dinilai dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi domestik. 

Dengan subsidi yang lebih besar, pemerintah berupaya menahan kenaikan harga BBM, listrik, dan energi lainnya agar tidak langsung membebani masyarakat. Kebijakan ini penting di tengah kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya impor energi.

Oleh karena itu, tambahan subsidi berpotensi menjaga konsumsi rumah tangga dan menahan tekanan inflasi dalam jangka pendek. Dari sisi fiskal, investor perlu mencermati peningkatan beban APBN karena semakin besar subsidi energi, semakin terbatas ruang anggaran pemerintah untuk belanja produktif dan pembangunan. 

“Jika harga minyak dan pelemahan rupiah terus berlanjut, risiko pelebaran defisit anggaran juga perlu diperhatikan,” kata Ibrahim. 

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.080-Rp18.130 per dolar AS.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement