Selain kualitas, asal-usul bahan baku dan metode penangkapan juga menjadi perhatian pasar. Government Affairs & Policy Lead Yayasan IPNLF Indonesia, Nilmawati, mendorong konsumen dan pelaku usaha untuk lebih memperhatikan praktik penangkapan ikan yang bertanggung jawab.
Dia menjelaskan, metode penangkapan satu per satu (one-by-one fishing), seperti pancing ulur (handline) dan pancing huhate (pole-and-line), dikenal lebih selektif dibandingkan sejumlah metode penangkapan lainnya.
"Jangan ragu untuk bertanya kepada penjual atau restoran, dari mana tuna yang mereka jual berasal dan bagaimana ikan tersebut ditangkap. Apakah menggunakan pancing ulur (handline), pole-and-line (huhate), atau metode lainnya?" kata Nilmawati.
Menurut dia, meningkatnya perhatian konsumen terhadap asal-usul produk dapat mendorong pelaku usaha memperkuat transparansi rantai pasok dan memperhatikan praktik penangkapan yang bertanggung jawab.
Pasar Domestik Jadi Peluang Tambahan
Di tengah peluang ekspor, penguatan konsumsi dalam negeri juga dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan tambahan bagi industri tuna nasional. Peningkatan permintaan domestik berpotensi memperluas pasar produk olahan, mendorong diversifikasi produk, serta membuka peluang penyerapan hasil tangkapan nelayan.