Share

Kelola Blok East Natuna, Pertamina Cari Partner Selevel ExxonMobil

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 08 Agustus 2017 18:07 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 08 320 1752079 kelola-blok-east-natuna-pertamina-cari-partner-selevel-exxonmobil-lB5z4e7IFT.jpg Ilustrasi: reuters

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa ExxonMobil telah mengembalikan 100% pengelolaan blok East Natuna. Artinya, perusahaan Amerika Serikat (AS) tersebut tidak lagi menjadi bagian dalam konsorsium East Natuna.

Sejak dijajakinya kerjasama untuk men-develop East Natuna, Pertamina mendapat hak partisipasi sebesar 42,5%, ExxonMobil 42,5%, dan PTT Exploration and Production 15%, pemerintah meminta di awal 2017 proyek segera dikerjakan.

Baca juga: Waduh! ExxonMobil Keluar dari Blok East Natuna

Mereka (konsorsium East Natuna) pun langsung melakukan kajian teknis dan pemasaran (Technical and Market/TMR) sebelum nantinya ada tanda tangan kontrak dengan tim Pertamina dengan ExxonMobil dan PTT sebagai konsorsium.

Berjalannya waktu, perusahaan asal Amerika Serikat, ExxonMobil, memutuskan untuk tetap mengembalikan 100% blok kepada pemerintah dengan alasan tidak ekonomisnya proyek tersebut.

Lantas seperti apa kelanjutan pengembangan Blok East Natuna, tanpa keterlibatan ExxonMobil. Seperti apa upaya Pertamina sebagai pemegang hak partisipasi sekarang?

Baca juga: Exxon Mundur dari Blok East Natuna, Menko Luhut: Nanti Saya Cek!

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam menegaskan, Pertamina tidak bisa sendiri untuk mengembangkan pengelolaan Blok East Natuna. Pasalnya, untuk memisahkan gas karbondioksida (CO2) menjadi gas membutuhkan biaya yang sangat besar.

Dia mengatakan, memang ada rencana untuk melakukan pemboran untuk injeksi oksigen (O2) di Blok East Natuna. Namun jika dihitung biayanya, bisa dibayangkan untuk mendapatkan 1 miliar kaki kubik (billion cubic feet/BCF), produksi yang harus dilakukan terhadap 4 bcf.

"4 bcf itu angka yang sangat luar biasa. Kalau lebih dari separuhnya kebayang enggak? Jadi Pertamina enggak mungkin sendirian," ujarnya di Ruang Sarulla, Gedung Sekjen ESDM, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Baca juga: Keluar dari Blok East Natuna, Arcandra: ExxonMobil Masih Mau Bantu Pertamina

Menurut dia, sebenarnya Blok East Natuna bukanlah lapangan gas, namun lapangan CO2 yang ada gasnya. Oleh karena itu jika ingin memproduksi gasnya maka tiga perempat CO2 harus dihilangkan.

Namun, jika dihitung-hitung biaya teknologi dengan biaya jual gas nanti, maka proyeksinya harga gas dari Blok East Natuna mahal alias tidak ekonomis.

"Jadi kita enggak bisa masuk dengan market sekarang. Karena teknologinya untuk treat CO2-nya mau dikemanakan," tukasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini