Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

ECONOMIC VIEWS: Mitra Investindo Pangkas Direksi dan Komisaris hingga Petinggi Allianz Tak Penuhi Panggilan Polisi

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Minggu, 08 Oktober 2017 |09:04 WIB
ECONOMIC VIEWS: Mitra Investindo Pangkas Direksi dan Komisaris hingga Petinggi Allianz Tak Penuhi Panggilan Polisi
Ilustrasi: (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA – Tingkatkan efisiensi dalam rangka mengurangi beban keuangan, menjadi pilihan tepat bagi perusahaan agar keluar dari kerugian. Langkah inilah yang tengah dilakukan PT Mitra Investindo Tbk (MITI). Perusahaan pertambangan minyak mentah ini masih belum memperoleh laba sampai pertengahan tahun ini.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melawan kampanye negatif terhadap industri minyak sawit melalui forum Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

Di sisi lain, Penyidik Polda Metro Jaya memastikan petinggi perusahaan asuransi PT Allianz Life Indonesia yang menjabat sebagai Direktur Klaim Yuliana tidak akan memenuhi panggilan lantaran sedang mengumpulkan barang bukti.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Harga Minyak Tak Stabil, Mitra Investindo Terpaksa Pangkas Direksi dan Komisaris  

Pada semester I 2017, rugi bersih perseroan yang tercatat mencapai Rp2,9 miliar. Namun jika dibandingkan kerugian di periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp14,2 miliar, MITI berhasil menyusutkan kerugian sebesar 80%. Dari segi pendapatan, perseroan ini mencetak pertumbuhan pendapatan 50% menjadi Rp15 miliar di semester I 2017.

Namun biaya operasional usaha dan penjualan masih tetap tinggi, ditambah pula harga minyak masih belum dapat mengerek MITI dari keterpurukan. "Saat ini saja jabatan direksi dan komisaris kami kurangi, itu termasuk bagian dari efisiensi," kata Presiden Direktur PT Mitra Investindo Tbk Sugi Handoko di Jakarta.

Baca Juga: Dipaksa Delisting oleh BEI, Inovisi Diberi Tambahan Waktu

Di posisi yang masih sulit ini, MITI belum bisa menargetkan perolehan laba sampai akhir tahun. "Sekarang ini susah. Sebenarnya untuk menutup saja cukup," kata Sugi. Namun dirinya pesimistis kalau tutup tahun nanti perusahaan dapat meraih laba di tengah harga minyak yang belum menguntungkan. "Kami terus adakan efisiensi. Dengan cara itu bisa menekan kerugian," ujar Sugi.

Adapun rencana untuk menambang di Blok Garung, Kalimantan masih tertunda. Perusahaan ini tengah menyelesaikan akuisisi saham Benakat Oil sebesar 23%. Sepanjang kuartal I-2017, perusahaan sudah memproduksi 18.600 barel atau setara dengan 206 bph.

Baca Juga: Wow, Nusa Konstruksi Cetak Kenaikan Laba hingga 399,55%

Apabila produksi stabil, diperkirakan perusahaan bisa memproduksi 74.400 barel pada tahun ini. Jumlah tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan dengan produksi pada tahun lalu yang hanya 66.200 barel atau setara 200 bph.

Oleh karena itu, selain meningkatkan produksi, perusahaan berharap harga minyak naik dan stabil, sehingga memberikan margin bagi perusahaan lebih baik. Berkaca pada tahun lalu yang masih merugi, tahun ini pun perusahaan memprediksi masih akan mengalami kerugian.

Tahun ini, MITI hanya menggelontorkan belanja operasional (Opex) sebesar USD135.000 hingga USD150.000 per bulan, sedangkan tahun lalu sekitar USD150.000 hingga USD160.000 per bulan.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement