Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Duh! Pembangunan Smelter Freeport Cs Molor, Pemerintah Berpotensi Rugi Triliunan Rupiah

Koran SINDO , Jurnalis-Senin, 23 Oktober 2017 |11:25 WIB
Duh! Pembangunan <i>Smelter</i> Freeport Cs Molor, Pemerintah Berpotensi Rugi Triliunan Rupiah
Ilustrasi: Reuters
A
A
A

JAKARTA – Lambannya pembangunan smelter yang dilakukan perusahaan tambang berpotensi merugikan pemerintah. Padahal pemerintah telah memberikan rekomendasi ekspor kepada perusahaan tambang tersebut.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan, Presiden Joko Widodo harus memperhatikan dan menindaklanjuti hasil audit yang sudah dilaporkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait dampak relaksasi ekspor dan pembangunan smelter dari beberapa perusahaan yang tidak kunjung direalisasikan.

“Ada pelanggaran terhadap UU yang berpotensi merugikan pemerintah, karena ketidaktaatan pada ketentuan yang sudah diatur UU Minerba,” kata Marwan di Jakarta, kemarin.

Dia menyebutkan, berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2017 BPK terhadap Freeport misalnya, terjadi potensi kerugian dari penerimaan iuran tetap dan royalti selama tahun 2009-2015 senilai USD445,96 juta (Rp5,8 triliun).

Seharusnya Freeport sudah menyesuaikan ketentuan tarif sesuai dengan Pasal 169 UU Nomor 4 Tahun 2009 paling lambat 1 tahun. Namun, baru disesuaikan pada 2014 melalui MoU tanggal 25 Juli 2014.

Menurut Marwan, Freeport juga wajib membangun smelter paling lambat lima tahun sejak UU Minerba berlaku atau paling lambat Januari 2014. Namun, smelter tersebut tidak kunjung terealisasi.

Perusahaan tersebut bahkan bisa mengekspor konsentrat karena mendapat rekomendasi ekspor. Freeport juga disebut melakukan ekspor konsentrat selama kurun waktu embargo periode Januari-Juli 2014. BPK menyebutkan, Freeport mengirim konsentrat sebanyak tujuh invoice dengan berat 10.122,186 ton.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement