Image

BPPT Lanjutkan Prastudi Kereta Semicepat Jakarta-Bandung

ant, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 19:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 07 320 1826938 bppt-lanjutkan-prastudi-kereta-semicepat-jakarta-bandung-JfIdJOfuz6.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

YOGYAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melanjutkan prastudi keseluruhan aspek pengembangan peningkatan kecepatan kereta api semicepat koridor Jakarta-Surabaya hingga akhir Desember 2017.

"Prastudinya masih dilanjutkan, masih bisa berubah, tapi akhir Desember ini harus sudah selesai," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto dalam Seminar Peningkatan Kecepatan Kereta Api Koridor Jakarta-Surabaya di Kompleks Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Kamis.

 Baca juga: Kereta Semicepat Jakarta-Surabaya Berhenti di 3 Stasiun, Mana Saja?

Dengan kajian ini, ia mengatakan diharapkan mampu menjadi solusi agar kereta Jakarta-Surabaya ini mampu mengurangi beban transportasi darat dan udara. Kereta ini kedepannya diharap mampu menjadi moda transportasi pilihan masyarakat.

BPPT melakukan prastudi kelayakan revitalisasi jalur kereta rute Jakarta-Surabaya bersamaan dengan Japan International Coorporation Agency (JICA). Namun sejauh ini kajian tersebut belum mengerucut sehingga masih diperlukan waktu lagi untuk menghasilkan pilihan skenario yang sesuai dengan yang dibutuhkan Indonesia saat ini.

 Baca juga: Pinjaman China Cair 15 Desember, Menteri Rini: 3 Tunnel Kereta Cepat Bandung-Jakarta Sedang Dikerjakan

Karena itu, melalui seminar ini ia berharap ada masukan dari perwakilan berbagai pemangku kepentingan sehingga ditemukan skenario yang paling pas dan tidak menimbulkan perdebatan lagi di masyarakat saat pembangunan dilakukan.

Lima jam Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada kesempatan yang sama mengatakan seminar ini menjadi upaya untuk mencari opsi terbaik yang akan dibawa menjadi usulan pada Sidang Kabinet berikutnya.

 Baca juga: Bangun Kereta Cepat, China Gelontorkan Rp62 Triliun untuk Konektivitas Wilayah Barat Daya

BPPT dan JICA, menurut dia, masih perlu mengkaji lagi lebih lanjut untuk mendapatkan skenario yang benar-benar pas dari berbagai aspek terutama finansial dan waktu tempuh kereta semicepat tersebut.

Budi Karya Sumadi berharap skenario yang dihasilkan dari seminar di Yogyakarta ini bisa memberikan pilihan teknologi yang cerdas, cepat dan ekonomis.

 Baca juga: Bitcoin Meroket 55% Sepanjang November, Berhenti di USD9.600

Ia memberikan spesifikasi agar kereta api semi cepat Jakarta-Surabaya ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar lima jam 30 menit, atau bahkan lebih cepat lagi. Dengan perhitungan dana mencapai Rp60 triliun.

"Jakarta-Surabaya selama ini dilayani Argo Bromo dengan waktu tempuh sembilan jam, kita ingin percepat menjadi 5,30 jam. Ini suatu pemikiran dan keharusan bagi tim kajian, untuk mewujudkan itu. Ini juga visi dan misi Presiden untuk meningkatkan daya saing nasional," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu ia juga meminta selain melakukan kajian infrastrukturnya juga memperhatikan aspek sosial dan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Karena itu, seperti yang juga disampaikan Kepala BPPT, pembangunan infastruktur harus juga berdampak pada kemajuan industri di Tanah Air.

Seminar ini adalah bagian dari prastudi kelayakan yang mendukung proyek strategis nasional, sesuai Peraturan Presiden Nomor 58 tahun 2017 terkait Pembangunan Prasarana dan Sarana Kereta Api Antarkota Jakarta sampai Surabaya.

Selanjutnya BPPT sebagai mitra Kementerian Perhubungan telah berkerja sesuai tupoksinya sebagai lembaga pengkajian bidang teknologi yang akan diterapkan khususnya dalam prastudi kelayakan Peningkatan Kecepatan Kereta Api Koridor Jakarta-Surabaya mencakup antara lain kajian perencanaan transportasi, struktur jalan kereta api, struktur jembatan, sarana kereta-api, Transit Oriented Development (TOD), elektrifikasi, persinyalan telekomunikasi, depot kereta api, lingkungan dan sosial, analisa kelayakan dan rencana implementasi proyek, survai foto udara tergeoreferensi LIDAR, survai geolistrik, survai kepemilikan lahan dan potensi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini