nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kementerian ESDM Rapatkan Barisan, Cari Apa yang Terbaik untuk Palu

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 12 Oktober 2018 11:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 12 320 1963015 kementerian-esdm-rapatkan-barisan-cari-apa-yang-terbaik-untuk-palu-HqnhxD7vMT.jpg Badan Geologi Kementerian ESDM (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar acara seminar mengenai ā€¯Informasi Geologi Sebagai Dasar Untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca terjadinya Gempabumi Palu". Acara seminar itu sendiri dibuka langsung oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Acara seminar itu sendiri dihadiri oleh sejumlah stekholder. Seperti perwakilan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) hingga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar mengatakan, digelarnya acara ini bertujuan untuk menyampaikan data terbaru tentang kondisi Palu dan sekitarnya dari aspek geologi. Sebab banyak sekali informasi yang diterima masyarakat hanya dari sisi penanganannya saja sedangkan bagiamana pandangan dari sisi geologi mengenai Palu pasca gempa masih sangat sedikit sekali informasinya.

Baca Juga: Obrolan CEO World Bank dengan Wapres JK soal Bencana Sulawesi dan Lombok

"Makanya hari ini kita melakukan semacam seminar untuk bisa menginformasikan kepada semua dari sisi ke geologian ke depan Palu itu harus bagaimana," ujarnya di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk menyampaikan kepada peserta seminar bahwa daerah Palu secara geologi masih dapat dibangun kembali. Akan tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu.

Apalagi, kondisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif utama dunia (Indo Australia, Pasifik dan Eurasia) memiliki potensi bencana geologi. Salah satunya adalah gempa bumi yang dalam beberapa kasus disertai dengan kejadian tsunami.

"Bukan berarti palu tidak boleh di huni lagi. Tentunya bisa dihuni dengan persyaratan-persyaratan khusus penguatan tentunya apa yang disampaikan pak menteri tadi kita sudah bersama sama geologi, ATR, PUPR, dlBMKG, Bappenas," jelasnya.

Baca Juga: Presiden World Bank Ungkap Ada 2 Masalah Besar bagi Negara Kaya dan Miskin

Oleh karenanya, saat ini semua penyelidikan ini masih berlangsung. Harapannya, dalam 1 bulan rekomendasi teknis dari Badan Geologi akan dikeluarkan dan diharapkan dapat digunakan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi Palu dan sekitarnya.

"Kita bersama sama akan menggodok untuk diimplementasikan di Palu baik berupa tata ruang maupun rehab termasuk untuk konstruksi apa yang cocok di bangun di palu," jelasnya.

Sebagaimana kita ketahui telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,4 pada tanggal 28 September 2018, pukul 17:02 WIB, dengan episenter pada koordinat 119,85 BT; 0,18 LS, (27 km timur laut Donggala) pada kedalaman 10 km, dan diikuti oleh serangkaian kejadian gempabumi susulan lainnya.

Rangkaian gempa bumi ini mengikuti pola patahan Palu-Koro yang merupakan salah satu patahan paling aktif di Indonesia yang memotong wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan/Tenggara, dengan jenis patahan mendatar mengiri.

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini