nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sapi Dominasi Investasi Peternakan, Nilainya Tak Terduga

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 13 November 2018 12:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 13 320 1977123 sapi-dominasi-investasi-peternakan-nilainya-tak-terduga-e0ArBIm2LD.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA – Investasi di sektor peternakan dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan. Investor asing maupun nasional lebih banyak tertarik menanamkan modalnya di peternakan sapi dan unggas.

“Hal itu tercermin dari nilai akumulasi investasi pada 2016, 2017, dan tahun ini,” ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita di Jakarta.

Dia mengungkapkan, investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) peternakan pada 2017 mencapai Rp842,9 miliar. Nilai investasi tersebut lebih tinggi sekitar 80,9% dibandingkan dengan 2016 sebesar Rp466,0 miliar. Sementara nilai investasi penanaman modal asing (PMA) peternakan 2016 mencapai USD48,9 juta.

Baca Juga: Ekspor Perternakan RI Tembus Rp30 Triliun, Ini Rinciannya

Tahun lalu, investasi asing di sektor peternakan mencapai USD159,7 juta atau melonjak sekitar 226,6%. Periode 2015-2018 sampai dengan kuartal II, komoditas unggas merupakan komoditas paling menarik bagi investor, baik PMA maupun PMDN.

Realisasi investasi PMA selama periode itu untuk komoditas unggas sebesar 82,14% dan PDMN sebesar 86,78%. Pada 2018 hingga kuartal II, investasi PMA subsektor peternakan mencapai USD54,3 ribu dan PMDN Rp405,1 juta.

Sama seperti dengan tahun-tahun sebelumnya peningkatan investasi PMDN di subsektor peternakan 2018 masih didominasi komoditas unggas 85,1% dan komoditas sapi 14,9%.

“Sedangkan untuk investasi PMA kontribusi komoditas unggas sebesar 46,9%, komoditas sapi 50,1%, komoditas lain serta jasa peternakan lainnya 3,0%,” kata I Ketut Diarmita.

Baca Juga: Kesehatan dan Keamanan Hewan Jadi Tantangan Perluas Ekspor Produk Peternakan

Menurut Ketut, kebijakan pemerintah yang menjadi pendorong peningkatan investasi sektor peternakan diantaranya pemberian fasilitasi pengurangan pajak penghasilan (tax allowance) bagi usaha pembibitan sapi potong dan budi daya penggemukan sapi lokal berdasarkan PP Nomor 18/2015.

“Adanya mitigasi risiko melalui Asuransi Usaha Ternak Sapi dan Kerbau (AUTS/K) dengan fasilitasi bantuan premi untuk 120.000 ekor per tahun sejak 2016. Pemerintah juga memfasilitasi subsidi bunga Kredit Usaha rakyat (KUR) dengan bunga KUR sebesar 7% dan fasilitasi peningkatan akses pembiayaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan BUMN,” kata dia.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus lalu menyebutkan, terdapat sekitar 3,84 juta tenaga kerja yang bekerja di subsektor peternakan.

Baca Juga: Indonesia Perluas Ekspor Ternak ke Timur Tengah

Subsektor peternakan berkontribusi menyerap 11,51% tenaga kerja sektor pertanian. Sementara terhadap total tenaga kerja nasional, subsektor peternakan berkontribusi sebesar 3,17%.

Jumlah tenaga kerja subsektor peternakan tahun 2018 mencapai 4,83 juta orang naik 27,3% dari tahun 2015.

“Pertumbuhan ternak, produksi pakan, dan obat-obatan menjadi kunci sangat penting untuk peningkatan produksi karena permintaan untuk protein hewani akan terus meningkat seiring dengan peningkatan PDB per kapita,” katanya.

Subsektor peternakan masih berperan penting bagi proses pembangunan, terutama di daerah perdesaan. Dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kontribusi subsektor peternakan sebesar 1,57% terhadap PDB Nasional tahun 2017.

Peningkatan produksi mendongkrak PDB sub sektor peternakan 2017 sebesar Rp148,5 triliun naik Rp23,2 triliun dari tahun 2013 sebesar Rp125,3 triliun. Untuk pembentukan PDB sektor pertanian tahun 2017, subsektor peternakan berkontribusi sebesar 15,87%. Pertumbuhan PDB subsektor peternakan juga menunjukkan tren positif karena pada 2017 tumbuh 3,83%.

Berdasarkan data BPS, pencapaian nilai ekspor komoditas subsektor peternakan tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 14,85% dibandingkan tahun 2016. Nilai ekspor 2017 mencapai USD623,9 juta atau setara Rp8,5 triliun.

Sekretaris Ditjen PKH Nasrullah mengatakan, berdasarkan data realisasi rekomendasi ekspor Ditjen PKH, capaian ekspor peternakan sejak 2015 hingga semester I/2018 mencapai Rp30,15 triliun.

Kontribusi ekspor terbesar pada kelompok obat hewan mencapai Rp21,58 triliun yang diekspor ke 87 negara. Selanjutnya ekspor babi ke Singapura sebesar Rp3,05 triliun serta susu dan olahannya sebesar Rp2,32 triliun diekspor ke-31 negara.

“Selanjutnya bahan pakan ternak asal tumbuhan sebanyak Rp2,04 triliun ke-14 negara, produksi hewan non pangan, telur ayam tetas, daging dan produk olahannya, pakan ternak, kambing/domba, DOC dan semen beku,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini