JAKARTA – Keputusan MSCI mendepak tujuh saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Index dan menambah tiga saham dalam daftar tersebut, membuat reaksi investor sehingga mempengaruhi kinerja indeks.
Namun demikian, menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djayadi, rebalancing MSCI merupakan hal yang biasa terjadi di pasar dan biasanya tak akan mempengaruhi dalam jangka panjang.

“Pengaruhnya saya kira sementara saja, tidak dalam jangka panjang, justru hal ini bisa digunakan untuk mulai melakukan akumulasi beli untuk saham-saham tertentu," ujarnya di Jakarta, seperti dikutip dari Harian Neraca, Kamis (15/11/2018).
Bcaa Juga : BEI Catat Total Emisi Obligasi dari 48 Perusahaan Senilai Rp98,8 Triliun
Sebagai informasi, MSCI kembali meninjau konstituen beberapa indeks global pada bulan November ini. Secara total. MSCI menambahkan 48 saham dan menghapus 66 saham dari indeks MSCI Global Standard Indexes. Perubahan indeks ini akan berlaku pada penutupan 30 November 2018. Ada dua saham emiten Indonesia yang ditambahkan dalam indeks ini, yakni saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan saham PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).
Dua saham harus turun dari barisan indeks ini, yakni saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Kedua saham ini bergeser ke MSCI Global Small Cap Index bersama dengan saham PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL).
Baca Juga : BEI Bakal Terapkan Sistem Baru Indeks LQ45 dan IDX30 di Februari 2019
Selain itu, tercatat ada tujuh saham Indonesia dihapus dari daftar MSCI Global Small Cap Index, pada pengumuman Selasa (13/11) malam, yakni PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT MNC Investama Tbk (BHIT), PT Modernland Realty Tbk (MDLN), PT Siloam International Hospitals (SILO) PT Visi Media Asia Tbk (VIVA).

(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.