nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Pantau Nilai Ekspor-Impor Belanja Online di 2020

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 07 Januari 2019 20:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 07 20 2001208 bi-pantau-nilai-ekspor-impor-belanja-online-di-2020-Rof0s1244N.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyepakati kerja sama pemanfaatan dan pemantauan terintegrasi atas data dan atau informasi devisa terkait kegiatan ekspor dan impor melalui Sistem informasi Monitoring Devisa terintegrasi Seketika atau SiMoDIS. Dengan adanya SiMoDIS ini diharapkan, data Dana Hasil Ekspor (DHE) bisa tersedia real time.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan dan kepatuhan Laporan Bank Indonesia (BI) Farida Peranginangin mengatakan, selain menyediakan data DHE secara real time, nantinya SiMoDIS ini juga bisa memberikan manfaat yang lain. Salah satunya meningkatkan perolehan DHE dan juga mengoptimalkan penerimaan negara di kepabeanan dan perpajakan.

Pasalnya, lanjut Farida, nantinya Bank Indonesia juga memantau DHE dari belanja online. Karena menurutnya, tanpa disadari belanja online juga bisa menjadi penyumbang ekspor yang belum terdata oleh pemerintah.

Baca Juga: Pakai Sistem Ini, Dana Hasil Ekspor Lebih Transparan

Selain DHE yang berasal dari belanja online, Bank Indonesia juga akan memantau Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang berasal dari jasa titip. Bisnis jasa titip ini sendiri saat ini sedang ngetrend dikalangan milenial, namun sayangnya belum ada pemberitahuan pasti mengenai berapa nilai impor yang berasal dari jasa titip ini.

Pemantauan ini tentunya akan menguntungkan juga bagi Kementerian Keuangan. Karena lewat data ini, Kementerian Keuangan bisa mengetahui berapa potensi pendapatan negara yang didapatkan dari bea masuk dan juga pajak.

"Komunitas yang biasa belanja online yang sekarang kami itu atas dasar PEB dan PIB. Belum belanja online. Misalnya komestik, kemudian itu banyak sekali jastip. Itu akan kami match juga uangnya. Jadi kami akan data ekspor impor e-commerce dengan uanganya," ujarnya dalam acara media briefing di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Adapun cara memonitornya adalah dengan memantau sistem pembayarannya. Biasanya mereka yang berbalanja online baik itu ekspor maupun impor menggunakan pembayaran lewat debit card atau kredit card baik itu Visa maupun Mastercard.

"Datanya dari mana ? Kami bisa minta kepada sistem pembayaran. Ada Mastercard visa. Sehingga kita tahu persis berapa ekspor impor kita total," jelasnya.

Baca Juga: Sri Mulyani dan BI Kompak "Pelototi" Seluruh Devisa Hasil Ekspor

Namun menurut Farida, pemantauan nilai impor dan ekspor yang berasal dari belanja online maupun jasa titip belum bisa dilakukan pada tahun ini. Targetnya, hal tersebut baru bisa dilakukan pada 2020 mendatang, sebab pihaknya harus melakukan perjanjian dengan Kementerian Perdagangan terlebih dahulu sebagai instansi yang berhubungan langsung dengan jual beli antar negara.

"Tahap duanya di 2020 kami akan menyelesaikan untuk melengkapi dokumen arus barang. Termasuk dokumen tranportasi plus ada data di kementerian perdagangan. Sehingga apa yang ada d isana kami akan bahas lebih lanjut belum sampai tahap perdagangan di tahap pertama," jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini