nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soal Diskriminasi Kelapa Sawit, Menko Luhut Minta Nasionalisme Dibangkitkan

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 08 April 2019 14:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 08 320 2040550 soal-diskriminasi-kelapa-sawit-menko-luhut-minta-nasionalisme-dibangkitkan-aMmkEybrJZ.jpeg Menteri koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta untuk lembaga swadaya masyarakat (SDM) turut terlibat dalam menentang pelarangan komoditas kelapa sawit ke Uni Eropa. Padahal, kelapa sawit merupakan komoditas ekspor utama Indonesia.

Menurut Luhut, keberlangsungan industri kelapa sawit ini melibatkan kehidupan 20 juta petani Indonesia. Jadi bukan hanya persoalan lingkungan saja.

"Berharap LSM Indonesia juga merasa terpanggil. Ada 20 juta petani, jadi jangan bicara masalah soal lingkungan saja. LSM-LSM kita nasionalismenya dibangkitkan. Small holders yang terlibat," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Senin (8/4/2019).

Baca Juga: Diskriminasi Sawit, Indonesia dan Malaysia Layangkan Surat Keberatan ke Uni Eropa

Dia menjelaskan, dengan melawan diskriminasi Uni Eropa terhadap komoditas kelapa sawit, bukan berarti pemerintah mengabaikan isu lingkungan hidup. Kata dia, pemerintah pun terus berupaya melakukan perbaikan lingkungan hidup, terlihat dari pembenahan sungai Citarum.

Di sisi lain, terkait kebutuhan penggunaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit menurutnya jauh lebih sedikit ketimbang komoditas kedelai. Di mana kelapa sawit hanya membutuhkan 1 hektare (ha) lahan untuk memproduksi 1 ton minyak nabati, sedangkan kedelai membutuhkan 10 ha untuk 1 ton minyak nabati.

"Lalu juga sudah ada 14 juta ha (kelapa sawit) yang sudah moratorium, jadi tidak akan ada lagi pembukaan lahan baru," katanya.

Melihat Lebih Dekat Buruh Kerja Memanen Kelapa Sawit di Desa Sukasirna Sukabumi 

Dia menjelaskan, pemerintah juga tengah berupaya mengendalikan antara suplai dan permintaan kelapa sawit, sehingga diharapkan semakin meningkatkan harga komoditas ini di sekitar USD800-USD900 per ton. Selain itu, pemerintah mendorong produktivitas melalui program replanting yang kini tengah dijalankan, juga dengan meningkatkan kualitas bibit.

Peningkatan produktivitas yakni dari saat ini sekitar 1-5 ton per ha menjadi 6-9 ton per ha dalam 5-10 tahun mendatang. "Maka itu semua akan berdampak pada keuntungan petani," katanya.

Luhut menyatakan, peningkatan produksi dan nilai tambah dari kelapa sawit ini pun akan berdampak pada ketahanan perekonomian Indonesia. Di mana membantu menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD)

"Kita juga tidak mau tergantung pada impor (minyak). Karena akan bisa 20%, 30%, hingga 100% (minyak kelapa sawit) kita convert menjadi energi. Teknologi sudah ada," tutupnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini