nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Setelah Rugi, Sierad Produce Cetak Penjualan Bersih Rp3,12 Triliun

Rani Hardjanti, Jurnalis · Jum'at 10 Mei 2019 16:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 10 278 2054108 setelah-rugi-sierad-produce-cetak-penjualan-bersih-rp3-12-triliun-ElDw02SKbd.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ketidakpastian perekonomian global banyak mempengaruhi dinamika nilai tukar Rupiah pada 2018. Ketidakpastian tersebut dipengaruhi oleh berlanjutnya kenaikan Federal Funds Rate (FFR) dan ketidakpastian pasar keuangan global.

Mengutip dari Laporan Bank Indonesia mengenai Perekonomian Indonesia 2018, nilai tukar Rupiah pada 2018 secara merata melemah 6,05% (yoy) ke level Rp14.246 per per USD dari Rp13.385 per USD pada 2017. Secara point-to-point (ptp), nilai tukar Rupiah melemah 5,65% dan ditutup di level Rp14.380 per per USD pada akhir 2018.

Penguatan dolar AS ini memberikan pengaruh terhadap harga dunia soybean meal sebagai bahan baku pakan ternak yang terus mengalami kenaikan yang signifikan sekitar 20% sampai dengan pertengahan tahun 2018, namun setelah itu mengalami penurunan hingga pada level harga awal tahun 2018.

Industri peternakan khususnya peternakan unggas mengalami pertumbuhan yang cukup baik walaupun masih cukup fluktuatif di tahun 2018 dan memberikan tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis. Antara lain tidak diperkenankannya menggunakan Antibiotic Growth Promoter (AGP) dalam kegiatan budi daya unggas, sehingga berpengaruh pada produktivitas unggas dan biaya produksi.

Baca Juga: Emiten Dituntut Terapkan Pedoman Standar Akuntansi Baru

Di samping itu, tantangan lain industri perunggasan di tahun 2018 adalah terbatasnya produksi jagung lokal yang mengakibatkan tingginya harga jagung, beragam jenis penyakit unggas, serta upaya peningkatan konsumsi daging dan telur yang belum melonjak secara signifikan.

Di tengah kondisi industri yang penuh tantangan tersebut, perusahaan perunggasan terintegrasi PT Sierad Produce Tbk (Perseroan) berhasil membukukan kinerja positif tahun 2018. Setelah di tahun 2017 mencatat rugi sebelum pajak Rp237 miliar, upaya turnaround yang dilakukan oleh Perseroan membuahkan laba sebelum pajak yang naik sangat signifikan sebesar Rp33,9 miliar di tahun 2018 dengan penjualan bersih mencapai Rp3,12 triliun, naik 27% atau Rp670 miliar dari Rp2,45 triliun pada tahun 2017.

"Membaiknya harga DOC (Day Old Chick/Ayam Umur Sehari) dan ayam hidup, kenaikan harga bahan baku pakan ternak yang dapat diimbangi dengan kenaikan harga jual pakan ternak, perputaran modal kerja yang lebih baik serta implementasi capital expenditure yang lebih selektif menjadi landasan peningkatan kinerja Perseroan secara keseluruhan," ujar Direktur Utama Perseroan Tomy Wattemena Widjaja, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (10/5/2019).

Tomy menjelaskan, seluruh segmen berkontribusi dalam kenaikan tersebut yaitu penjualan pakan ternak, ayam umur sehari, makanan olahan, dan ayam potong dapat tumbuh secara double digit. Lini bisnis pakan ternak memberikan kontribusi terbesar dengan pertumbuhan volume sebesar 22,21%, sedangkan di bagian bisnis olahan mencapai pertumbuhan volume sebesar 41,31%.

Tahun 2019, lanjutnya, Perseroan menargetkan pertumbuhan double digit di kisaran 20% di segala lini bisnis dan meningkatkan kualitas produk yang diharapkan dapat meningkatkan keseluruhan kinerja baik dalam hal finansial maupun operasional.

Baca Juga: OJK Tetapkan Jasnita sebagai Efek Syariah

Perseroan secara konsisten mempertahankan fasilitas operasional agar tetap baik, hal ini didukung dengan komitmen. Sierad, perseroan menganggarkan biaya perbaikan dan pemeliharaan sesuai dengan kebutuhan. Perseroan juga akan memaksimalkan utilisasi teknologi informasi. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas farm dengan dukungan teknologi terkini. Upaya ini menjadi sangat krusial mengingat bahwa telah terjadi shifting industri besar-besaran dari metode konvensional ke digital.

Di samping itu, tahun 2019 Perseroan juga akan melakukan double capital expenditure dari tahun 2018, meningkatkan sales dan marketing expenses, serta akan menambah jumlah karyawan khususnya tenaga penjualan.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini