nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengintip Skema Syariah di Semua Lini Bisnis

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 26 Mei 2019 11:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 26 320 2060486 mengintip-skema-syariah-di-semua-lini-bisnis-sN3baE8wD5.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Gaya hidup sesuai tuntunan Islam juga kini banyak dilakukan di banyak bidang. Mereka yang memutuskan untuk hijrah, hingga segala aktivitas harus mendukung mereka agar lebih taat. Begitu juga dalam proses pembiayaan, kini beberapa muslim Indonesia yang meninggalkan kredit pemilikan rumah (KPR) dari bank dengan alasan riba dan beralih ke pembiayaan sesuai syariat.

Properti syariah tengah menjadi sorotan. Selain terhindari dari riba yang dilarang dalam Islam, keuntungan lain yang dapat dirasakan konsumen ialah nominal cicilan yang akan sama dari tahun bulan pertama mencicil hingga bertahun-tahun kemudian.

Penjualan yang dilakukan secara sistem syariah identik dengan prinsip 5T yakni tanpa riba, tanpa denda, tanpa sita, tanpa BI checking, tanpa akad batil. Konsep 5T tersebut sesuai dengan syariat Islam.

“Perbedaan properti syariah hanya dilihat dari cara pembayaran kredit dengan akad yang berbeda dari biasa,” ujar Wiwit Wiranto, pemilik Agen properti syariah Indy Property.

Konsumen memang mencicil dengan pihak pengembang, namun dengan akad tidak melebihkan jumlah cicilan dari harga properti. Wiwit memberi contoh, jika rumah harga Rp300 juta, diawali dengan bayar uang muka atau down payment (DP) sebesar 30% yakni Rp100 juta dan sisanya dicicil.

Perjanjian cicil 10 tahun berarti 200 juta dibagi 10 tahun atau 120 bulan sehingga konsumen membayar Rp1,6 jutaan. Jadi, dari tahun pertama hingga tahun kesepuluh, cicilan yang dibayarkan konsumen nominalnya masih sama.

Jumlah yang dikeluarkan konsumen tetap Rp200 juta, tidak ada kelebihan apa pun. Saat awal membangun agen properti syariah pada 2015, diakui Wiwit masih sulit mencari pengembang yang menerapkan sistem syariah.

Namun, sejak 2016 semangat antiriba terus menggema. Semakin banyak orang yang mencari agen properti syariah, begitu juga pengembang yang ingin membuat perumahan dengan konsep pembayaran syari.

“Jumlah kenaikan sangat signifikan, dulu saya cari di internet hanya 4-5 developer, sekarang bisa sampai 100 developer properti syariah,” ungkapnya. Masyarakat juga dulu harus mendapatkan edukasi lebih dalam.

Menjelaskan secara detail, namun jika dibandingkan dengan masa kini, Wiwit dengan mudahnya beriklan di ecommerce properti. Calon konsumen tidak perlu banyak dijelaskan, bahkan mereka langsung bertanya harga, lalu menentukan pilihan.

Selain karena faktor antiriba, juga banyak konsumen juga yang tertarik karena cara pembiayaan yang tidak memberatkan di masa depan. Meskipun begitu, penjualan properti syariah juga banyak tantangannya, karena tidak dibantu oleh bank sehingga DP 30% itu sudah kewajiban yang tidak bisa ditawar namun masih bisa dicicil.

“Pada properti konvensional, DP malah bisa kurang dari 10%. Tantangan lain properti syariah belum ada bangunannya. Hal itu boleh dalam syariat, nanti ada akad lagi untuk ini.

Ada janji dari developer yang harus ditunaikan untuk membangun. Biasanya selama setahun rumah dibangun, baru setelah itu serah-terima kunci,” jelas Wiwit. Bangunan yang belum ada ini tidak menjadi masalah bagi konsumen.

Wiwit pun yakin industri properti syariah sangat bagus ke depannya. “Melihat tren dua tahun ke belakang dengan peningkatan yang melesat jauh. Pasarnya sangat menjanjikan, akan banyak developer syariah, mereka yang konvensional juga ikut hijrah menjadi developer properti syariah,” sambungnya.

Segmentasi pasar pun beragam, konsumen yang ingin mencicil hingga 25 tahun atau yang ingin 10 tahun saja juga sangat banyak peminatnya. Gerakan antiriba yang kerap didengungkan berbagai komunitas bahkan menjadi materi dakwah, sangat efektif membuat masyarakat tergerak memiliki rumah melalui pembiayaan secara syariah.

Bagaimana dengan perumahan islami? Wiwit mengaku sudah banyak menjual rumah-rumah dari pengembang yang punya konsep perumahan islami. Lokasi perumahan masih banyak di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor.

Bahkan banyak warga Jakarta dan Bandung memiliki rumah di perumahan Islami di Bogor. "Imbas dari pembiayaan secara syariah banyak yang ingin menjalankan syariah ini secara kaffah atau menyeluruh.

Jadi mereka juga mencari perumahan islami," cerita Wiwit. Menurutnya, perumahan islami tentu harus dimiliki oleh keluarga muslim, pengembang dipastikan menyediakan sarana prasarana dan suasana yang memudahkan penghuni untuk beribadah.

Penghuni juga dipastikan tidak boleh memiliki anjing sebagai hewan peliharaan. Selain perumahan islami, Wiwit juga tengah memasarkan apartemen syariah dengan konsep kost sewa dengan fasilitas lengkap dan bernuansa islami.

Berada di kawasan Dramaga, Bogor dekat IPB, universitas terbesar di Indonesia, konsep baru disediakan pengembang. Selain fasilitas namun juga mereka memikirkan pembangunan manusia secara moral dan spiritual.

Pengembang memiliki konsep unggulan untuk para penghuni seperti ajakan sholat subur berjamaah, program tahfidz Qur'an, mentoring bisnis syariah, kajian fiqih muamalah, technopreneur academy, dan akses komunitas bisnis syariah.

Apartemen syariah ini ialah proyek khusus investasi dengan pembeli usia 35-50 tahun yang sudah mapan dan sudah paham mengenai anti Riba, dan sangat antusias dengan nilai yang ditawarkan dari 7 program itu.

Konsep baru di Indonesia melihat generasi milenial banyak yang paham agama dan ingin hidup sesuai ajaran agamanya. "Pasarnya mahasiswa IPB yang saat ini semakin kuat kehidupan syariah dan sesuai survei developer memang mereka pun masih terkendala dengan lingkungan kost yang masih sedikit yang syariah," ungkapnya.

Selain properti yang kini tengah digenjot pemerintah yakni sektor keuangan berbasis teknologi atau Financial Technology (Fintech). Fintech juga sudah masuk ranah syariah, pasar dan pemainnya kini semakin banyak.

Salah satunya, Ammana fintech syariah pertama di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ammana hadir untuk membantu banyak Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk memperoleh modal dengan sistem syariah.

Hal yang sama juga diperuntukkan untuk investor yang ingin menginvestasikan uangnya dengan cara baru yang lebih terkonsepi dan transparan. Lutfi Adhiansyah pendiri Ammana menjelaskan, mereka menjalankan kegiatan keuangan secara halal.

Halal berarti patuh pada syariat, tidak ada riba (penambahan uang yang mengandung risiko), gharar (kejelasan) dan zalim (menyakiti orang lain atau masyarakat) Ammana menyasar UKM yang termarjinalkan yakni UKM yang mata pencariannya hanya itu sehingga kalau mereka tidak berdagang atau tidak melakukan usahanya mereka akan sulit hidup.

Tanpa melalui survei yang terlalu dalam, Ammana sudah bisa memberi pinjaman. “Lihat dari nilai pinjamannya saja sudah bisa ditebak. Biasanya nilai pinjaman Rp10-50 juta ke bawah.

Kalau mereka sudah butuh Rp400 juta ke atas, artinya mereka sudah sustainable ,” jelas Lutfi. Menariknya, Ammana ialah fokus menjahit hubungan investor dengan peminjam. Bagi Lutfi, teknologi memang diciptakan untuk lebih mengumpulkan investor sebab selama ini investor menyebar.

“Mereka tidak dihadapkan dengan data visual sehingga mereka tidak tahu uangnya mengalir ke mana saja. Ammana sebagai wadah yang mengalirkan ke mana saja uang investor.

Investor akan tahu uang yang mereka investasikan ini benar-benar memberikan dampak,” ujarnya. Fintech yang berdiri Juli 2017 ini kini sudah memiliki lebih dari 7.000 investor dan 10.000 UKM yang didanai di seluruh Indonesia.

UKM termarjinalkan terdapat di daerah terjauh dari Ibu Kota, seperti di wilayah barat ada Lampung, Palembang bagian timur ada Makassar. Indonesia bagian timur, Ammana merambah ke Lombok dan NTB.

Saat mendirikan Ammana sebagai bagian dari ekonomi di Indonesia, Lutfi berharap masyarakat menjadikan halal ekonomi ini sebagai gaya hidup untuk semua. “Dengan teknologi, masyarakat lebih terbuka dan mulai menyadari bahwa menjalankan hidup sesuai syariat itu bukan sesuatu yang sulit.

Orang luar negeri saja mengejar-ngejar untuk industri mereka menjadi halal,” harapnya. Tren syariah juga merambah startup berbasis aplikasi digital sebut saja Halal Local. Halal Local ialah sebuah aplikasi yang diperuntukkan untuk traveller muslim.

Tidak dapat dimungkiri seorang muslim tetap harus melaksanakan kewajibannya di mana pun mereka berada. Salat lima waktu, makan- makanan halal yang bukan hanya di restoran, melainkan juga di swalayan.

“Kami membuat Halal Local pada 2017 tujuannya agar traveller terbantu. Data kami sudah ada 140 negara, sejauh ini paling lengkap database -nya karena kami agregasi dengan orang yang survei juga. Jika mereka ada data akan kami lampirkan.

Halal Local akan mencantumkan sumber dan link , jadi bisa lebih lengkap langsung membaca dengan ulasan seseorang,” ujar Senoyodha Brennaf, salah satu pendiri Halal Lokal.

Cara mengumpulkan sumber juga bekerja sama dengan banyak pihak salah satunya dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI memiliki lis tempat halal, sumber lain dari teman-temannya yang merantau di negeri orang.

Mereka juga bisa baca dan tulis bahasa di negara tersebut sehingga dapat membaca menu makanan menginformasikan kepada Halal Local. Setiap tahun terus meningkat, belum ada setahun Halal Lokal hadir, aplikasi Halal Lokal sudah diunduh sebanyak 10.000 kali.

Pengguna dari Indonesia dan Malaysia sebanyak 50% dan 40% Timur Tengah, 10% lainnya dari beberapa negara di Amerika dan Eropa. Fitur yang ada di aplikasi Halal Local ialah mencari makanan halal, tempat salat yang sudah ada 150.000 masjid di 140 negara.

Fitur melihat waktu salat serta arah kiblat. Informasi mengenai halal akan bertambah dengan informasi bahan makanan untuk yang ingin berbelanja di negara lain. fitur tambahan yang segera akan nanti pengguna hanya memindai barkot, kemudian akan muncul informasi makanan tersebut halal atau tidak.

“Fitur baru ini masih dimatangkan untuk persiapan olimpiade di Tokyo, Jepang tahun 2020. Halal Local ingin ikut berpartisipasi di ajang terbesar olahraga itu,” ungkap pria yang akrab disapa Yodha itu.

Sebuah kebanggaan dari negara mayoritas muslim dengan memberikan petunjuk untuk para traveller di seluruh dunia. Bagi Yodha, halal bukan identitas. Namun, dalam Islam diajarkan bahwa halal itu sudah pasti baik dan benar.

Jadi bisa merupakan sebuah gaya hidup yang dapat diperuntukkan untuk siapa pun. Kebanggaan menciptakan aplikasi ini juga ingin terus mengenalkan tempat wisata halal yang ada di Indonesia kepada dunia.

“Pada 2016-2017, alasan kami membuat Halal Local karena Indonesia memenangkan Halal Best Destination in The World untuk Lombok, NTB.

Dari situ, saya semangat ingin ikut berperan membantu agar tempat tujuan halal di Indonesia makin dikenal dunia serta memajukan ekonomi syariah Indonesia yang sangat besar peluangnya,” ucapnya penuh semangat.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini