nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertumbuhan Ekonomi 2020 Disepakati 5,2%-5,5%, Sri Mulyani Lapor Jokowi

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 08 Juli 2019 14:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 08 20 2076089 pertumbuhan-ekonomi-2020-disepakati-5-2-5-5-sri-mulyani-lapor-jokowi-XeUWs9Rm5P.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyepakati asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020. Di mana, pertumbuhan ekonomi dipatok kisaran 5,2%-5,5%.

Terkait hal itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan bahwa hasil kesepakatan rapat kerja kali ini akan dibawa pada sidang kabinet bersama Presiden Joko Widodo.

"Jadi, hasil persetujuan mengenai asumsi makro RAPBN 2020 yang telah disetujui oleh Banggar ke Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet yang digelar pada hari ini," ujar dia di Gedung DPR RI, Senin (8/7/2019).

 Baca Juga: Badan Anggaran DPR RI Sepakati Asumsi Makro RAPBN 2020

Dia menuturkan, dengan penyelesaian panja ini, Kemenkeu akan finalisasi nota keuangan. Dan pihaknya akan berterimakasih kepada anggota Banggar yang telah bekerja keras untuk menyetujuin asumsi makro RAPBN 2020 ini.

"Kami terima kasih kepada seluruh panja. Tentu ada beberapa hal yang nanti kita lihat dalam penyusunan nota keuangan final. Kesepakantan ini nanti akan kami jadikan rambu-rambu jika ada perubahan tentu akan kami sampaikan," katanya.

Sebelumnya, anggota Banggar DPR RI dari Partai Golkar John Kennedy Azis membacakan hasil panja-panja tentang asumsi makro yang telah disetujui.

"Pertumbuhan Ekonomi (PE), di tahun 2020 diperkirakan pada kisaran 5,2%-5,5%. PE tersebut cukup realistis dan dengan mempertimbangkan ekonomi domestik dan mempertimbangkan pelemahan ekonomi global," tutur dia.

 Baca Juga: Bahas RAPBN dan Rencana Kerja 2020, Sri Mulyani Cs Merapat ke DPR

Kemudian lanjut dia, inflasi di tahun 2020 diperkirakan berada pada kisaran 2,0%-4,0%. Pencapaian tersebut terutama akan didukung oleh strategi umum pengendalian inflasi dengan menciptakan keterjangkauan harga, menjamin ketersediaan pasokan, memastikan kelancaran distribusi, dan melakukan komunikasi yang efektif dalam rangka menjaga ekspektasi inflasi masyarakat.

"Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada tahun 2020 diperkirakan pada kisaran Rp14.000-Rp14.500 per Dolar AS. Beberapa faktor yang diperkirakan sangat berpengamh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah pada tahun 2020 antara lain risiko berlanjutnya trade war dan dampaknya pada volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia," kata dia.

Tingkat suku bunga SPN 3 bulan tahun 2020 diperkirakan pada kisaran 5,0% 5,5%. Perkiraan tersebut dipengaruhi terutama oleh peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global yang mendorong capital outflow ke negara maju (safe haven) serta risiko defisit Transaksi Berjalan dapat mempengaruhi persepsi investor dan berdampak pada suku bunga domestik.

"Harga minyak ICP tahun 2020 diperkirakan pada kisaran USD600-USD700 per barel. Pergerakan harga minyak mentah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh gangguan geopolitik seperti kemungkinan masih berlanjutnya sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela, ketidakpastian keberlanjutan pemangkasan produksi minyak mentah negara-negara OPEC+, serta potensi masih berlanjutnya perang dagang antara AS dengan China serta konflik dengan Meksiko," ungkap dia.

Lifting minyak dan gas bumi tahun 2020 diperkirakan pada kisaran 1.886,0 -2.140,0 ribu barel per hari. Perkiraan tersebut berasal dari lifting minyak bumi sebesar 695,0 840,0 ribu barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 1.191,0 -1.300,0 ribu barel setara minyak per hari.

"Faktor-faktor yang mempengaruhi perkiraan tersebut berdasarkan pengunaan produksi alamiah akibat sumur migas yang telah tua, sementara belum ada kegiatan eksplorasi sumur-sumur minyak baru, serta penurunan pada beberapa blok migas yang dalam proses terminasi. Pemerintah akan terus mendorong peningkatan lifting minyak dan gas bumi, di antaranya melalui optimalisasi produksi dengan pemanfaatan teknologi, memperbaiki iklim investasi, menyederhanakan proses perizinan serta mendorong peningkatan kegiatan eksplorasi berkelanjutan," pungkas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini