nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Investasi dan Permintaan Pasar Domestik Diprediksi Landai di Semester II-2019

Senin 15 Juli 2019 18:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 15 320 2079189 investasi-dan-permintaan-pasar-domestik-diprediksi-landai-di-semester-ii-2019-oronMnlyVK.jpg Ekonomi RI (Shutterstock)

JAKARTA - Laju impor non-migas yang terus menurun menandakan investasi dan permintaan di pasar domestik masih stagnan, dan itu diperkirakan bisa terjadi hingga akhir semester II 2019.

Melansir laman antaranews, Jakarta, Senin (15/7/2019), ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan laju impor di Juni 2019 yang menurun 20,7 persen secara bulanan (month to month/mtm) dibanding Mei 2019, mengindikasikan kontraksi yang signifikan.

 Baca juga: Pertemuan Jokowi-Prabowo Beri Signal Positif bagi Pelaku Pasar

Namun penurunan impor non-migas itu lebih karena momentum jeda saat libur Lebaran 2019 pada Juni 2019, dan menurunnya aktivitas industri manufaktur atau pengolahan di domestik.

 Investasi

Penurunan impor non-migas memang tampak bisa memperbaiki kualitas neraca perdagangan dan juga defisit transaksi berjalan. Namun jika penurunan impor disebabkan penurunan kegiatan industri manufaktur, maka hal itu perlu dicermati karena akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi domestik.

 Baca juga: Alasan Milenial Lebih Memilih Menabung Dibandingkan Investasi

"Impor non-migas hingga Juni 2019 juga mengalami kontraksi sejalan dengan penurunan aktivitas manufaktur domestik. Defisit neraca perdagangan diperkirakan akan kembali menyusut pada semester II 2019 sejalan dengan tren melandainya investasi dan pertumbuhan permintaan domestik yang terbatas," ujar dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekspor di Juni 2019 anjlok 20,54 persen (month to month) menjadi USD11,78 miliar, sedangkan impor merosot mencapai 20,7 persen menjadi USD11,58 miliar.

  Baca juga: Mendag Tawarkan Peluang Investasi ke Pengusaha Turki

Meskipun ekspor menurun, karena impor yang merosot lebih dalam, maka neraca perdagangan Indonesia di Juni 2019 tercatat surplus USD196 juta.

Josua menjelaskan dengan perkiraan masih landainya investasi dan permintaan di semester II 2019, maka impor non-migas tidak akan begitu "membebani" neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Dengan begitu, defisit transaksi berjalan diperkirakan menyusut di akhir 2019 menjadi 2,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibanding 2018 yang sebesar 2,98 persen PDB.

Sedangkan untuk ekspor yang hingga Juni 2019 masih tertekan, ujar Josua, karena lemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti untuk komoditas batu bara, dan produk kelapa sawit. Turunnya permintaan itu menggambarkan masih lemahnya aktivitas manufaktur dari negara tujuan ekspor Indonesia.

"Selain penurunan volume eskpor, penurunan harga komoditas ekspor seperti kelapa sawit sepanjang bulan Juni lalu juga turut menekan kinerja ekspor non-migas," kata Josua.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini