nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Biaya Produksi Mahal, Pemerintah Belum Kepincut Garap Pembangkit Tenaga Nuklir

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 20:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 15 320 2079289 biaya-produksi-mahal-pemerintah-belum-kepincut-garap-pembangkit-tenaga-nuklir-9zBjt8xJgS.jpg Nuklir (Reuters)

JAKARTA - Pemerintah masih belum melirik Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai sumber kelistrikan. Pasalnya biaya pokok produksi dari PLTN masih relatif mahal dibandingkan energi fosil.

Hal ini menjawab usulan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) menginginkan agar pemerintah mulai melirik PLTN. Meskipun begitu, pemerintah akan mengkaji kemungkinan PLTN masuk ke dalam Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN) 2019-2038.

 Baca juga: Keraguan Terhadap Teknologi Nuklir di RI Masih Tinggi

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, pihaknya sudah berdiskusi dengan beberapa pihak yang sudah mengembangkan PLTN. Bahkan dirinya juga sudah menerima tawaran dari beberapa pihak untuk mengembangkan PLTN namun pemerintah masih berfikir untuk mencari harga yang terjangkau.

 Nuklir

‎"Mengenai PLTN ini kalau penawaran yang saya terima langsung dari Rosatom, yang pertama tarif listrik terjangkau," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (15/7/2019).

 Baca juga: Sosialisasi Teknologi Nuklir di Indonesia Sudah Rambah 7 Daerah

Salah satu perusahaan yang mengajukan tawaran adalah Rosatom yang mengajukan Biaya Pokok Produksi PLTN sebesar 12 sen per kilo Watt hour (kWh). Harga tersebut masih lebih mahal dibanding Biaya Pokok Produksi listrik rata-rata nasional yaitu sekitar 7 sampai 8 sen per kWh.

"Rosatom menawarkan 12 sen per kWh. Kalau 12 sen per kWh, kalau mau longterm dengan rata-rata BPP listrik nasional misal 7-8 sen per kWh, ini menarik," jelasnya.

Jonan mengungkapkan, jika melihat tawaran tersebut, biaya Pokok Produksi listrik dari PLTN yang ditawarkan Rosatom masih berat. Sehingga pemerintah belum melirik penggunaan tenaga‎ nuklir untuk sektor kelistrikan, di sisi lain masyarakat masih mengkhawatirkan dampak negatif penggunaan energi nuklir sehingga masih membutuhkan sosialisasi.

"Kalau harganya kopetitif kita bisa katakan, tapi kalau 12 sen kurang (kompetitif). Selain memberi pengertian ke masyarakat, harganya juga masih tinggi," kata Jonan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini