Share

Sri Mulyani Sebut Pertumbuhan Ekonomi Semester I-2019 Capai 5,1%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 16 Juli 2019 15:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 16 20 2079645 sri-mulyani-sebut-pertumbuhan-ekonomi-semester-i-2019-capai-5-1-GvNMVh3ReC.jpg Sri Mulyani (Antara)

JAKARTA - Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1% pada semester I 2019. Tak jauh berbeda dengan realisasi pertumbuhan ekonomi semester I 2018 yang sebesar 5,17%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan angka pertumbuhan ekonomi itu berdasarkan perhitungannya terhadap kontribusi berbagai indikator, yakni konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, hingga realisasi ekspor dan impor Indonesia.

 Baca juga: Sri Mulyani Prediksi Pertumbuhan Ekonomi di Bawah 5,2%

"Realisasi pertumbuhan ekonomi semester I 2019 sebesar 5,1%, ini masih estimasi. Karena BPS akan merilis datanya pada Agustus 2019 mendatang," ungkapnya dalam rapat dengan Banggar DPR RI, Jakarta, Selasa (16/7/2019).

 Sri Mulyani

Dia menyatakan, kondisi perekonomian domestik memang terimbas tekanan dari eskternal, di mana menguatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Selain itu, didorong adanya tekanan suku bunga acuan The Fed yang tinggi, membuat investasi langsung asing mengalami perlambatan.

 Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi 2018 Capai 5,17%, Sri Mulyani: Tertinggi 4 Tahun Terakhir

"Sehingga meskipun tingkat konsumsi rumah tangga msih cukup kuat dan tumbuh tinggi, namun kami melihat untuk investasi mulai terjadi kecenderungan melambat," jelas dia.

Bendahara itu menjelaskan, perang dagang antar kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu memang membuat pertumbuhan ekonomi global melemah. Sehingga pelemahan ekonomi dialami banyak negara, termasuk oleh negara-negara maju di dunia.

 Baca juga; Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,1% di 2019

"Banyak pertumbuhan negara besar di dunia sudah melambat di kuartal I 2019. Ini juga didukung dengan data perdagangan global dan indeks harga komoditas yang semuanya cenderung melemah," katanya.

Sepanjang paruh tahun 2019, Kemenkeu mencatatkan nilai tukar Rupiah senilai Rp14.917 per USD, lebih kuat dari patokan dalam APBN 2018 yang senilai Rp15.000 per USD. Kemudian inflasi berada di level 3,3% (year on year/yoy).

Lalu suku bunga SPN 3 bulan berada diringkat 5,8% lebih tinggi dari asumsi 5,3%. Harga minyak mentah Indonesia berada di USD63 per barel lebih rendah dari asumsi yang sebesar USD70 per barel.

Sedangkan lifting minyak bumi mencapai 755 ribu barel per hari, lebih rendah dari asumsi yang 775 ribu barel per hari. Serta lifting gas bumi mencapai 1,05 juta barel setara minyak per hari, lebih rendah dari asumsi 1,25 juta barel setara minyak per hari.

Adapun untuk semester II 2019, Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hanya bisa mencapai di 5,2%. Dengan tingkat inflasi sebesar 3,1% yoy dan nilai tukar Rupiah berada di level Rp14.303 per USD.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini